Menengok Bangunan Cagar Budaya di Kota Kediri (6/Habis) – Radar Kediri

Setidaknya ada enam lukisan berukuran raksasa di dinding bangunan utama tersebut. Sayang, hanya dua lukisan yang masih bisa dilihat dengan jelas. Gambar rusa dan pemandangan. Indah dan membuat tenang hati yang melihat.

Mungkin, itulah yang diharapkan saat lukisan itu terpasang di ruangan utama.

Sementara lainnya, nyaris tidak bisa dilihat. Hanya guratan tipis di masing-masing bagian lukisan dengan pigura cat hitam itu menggambarkan kisah yang tak berbeda. Hewan dan pemandangan serta tulisan Tionghoa.

“Ini awalnya tertutup cat putih,” tutur Harijani, kepala Kantor Pelayanan Rumah Duka. Perempuan yang dipanggil Anik ini menjelaskan kalau saat dilakukan renovasi bangunan beberapa waktu lalu, lukisan-lukisan itu dibersihkan dengan cara mengerik cat yang menutupinya.

“Sayang, banyak yang akhirnya ikut terkelupas dan akhirnya kabur,” ucap Anik. Saat ini siapapun masih bisa melihat sisa-sisa lukisan indah dalam ruang persembahyangan yang berukuran 9×10,6 meter ini.

Adanya penutupan lukisan-lukisan di dalam ruang sembahyang itu dibenarkan oleh Boedi Darma, ketua Perkumpulan Rukun Sinoman Dana Pangrukti. “Itu (penutupan lukisan) sekitar 1965. Tahu kan alasannya,” ucap Boedi. Saat itu, pemerintah tidak memperbolehkan semua atribut yang terkait dengan Tionghoa. Termasuk nama dari rumah pelayanan duka itu pun diganti dari Gie Kie menjadi Dana Pangrukti.

Saat ini, lanjut Boedi, pihaknya masih berusaha mengembalikan gambar di lukisan itu seperti sediakala. “Tapi, sampai sekarang belum ketemu siapa yang bisa (mengembalikan lukisan),” tuturnya. Karena itu, dia berharap ada seniman yang mengetahui tentang lukisan itu dan bisa mengembalikan seperti semula bisa menghubungi pengurus perkumpulan.

Boedi sendiri mengaku bangga dengan keberadaan bangunan yang dijadikan cagar budaya sejak 2011 tersebut. Karena itu, untuk menjaga kualitas bangunan dan meningkatkan pelayanan, pihaknya terus melakukan penguatan bangunan. “Beberapa kali kami lakukan renovasi. Tentu saja tidak sampai mengubah bentuk utama bangunan,” terangnya.

Sesuai dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh BPCB, awalnya bangunan yang berdiri sejak 1875 atau 143 tahun ini hanya terdiri dari ruang utama yang menjadi tempat persemayaman, pendapa di sisi selatan dengan panjang 15 meter dan lebar 10,6 meter. Bangunan pendapa ini dibentuk dari 20 konstruksi 20 buah tiang kayu, tanpa dinding, dan atap berbentuk tumpang dua dengan ujung atap berbentuk pelana.

Sementara di sisi timur bangunan induk terdapat bangunan sayap yang berfungsi sebagai gudang dan ruang alat. Bangunan sayap ini memiliki bentuk yang sederhana yang terbentuk dari tembok, kayu dan atap berbentuk limasan dengan ujung wuwung berbentuk bulat.

Untuk memasuki ruangan ini, ada batas pintu gerbang yang dibuat di lorong antara bangunan induk dan bangunan sayap. “Saat ini, kami terus kembangkan untuk peningkatan pelayanan ke masyarakat,” ucap Boedi. Di antaranya bangunan tambahan di lahan seluas 1.447,46 meter persegi itu adalah tambahan gudang, garasi, kantor, dapur, ruang alat, dan ruang jenazah.

Meski terus berkembang, Boedi memastikan perkumpulan akan menjaga dan merawat seluruh peninggalan yang sudah berusia lebih dari 140 tahun tersebut. Bahkan, rumah duka ini diyakini bisa menjadi tempat studi bagi masyarakat yang ingin mengenal sejarah Tionghoa Kediri. “Rencana seluruh peninggalan yang sudah rusak akan diperbaiki dan dikembalikan seperti sediakala,” terangnya. Boedi berharap, rumah duka ini menjadi milik masyarakat Kediri dan menjadi salah satu jujugan wisata budaya.

“Saat ini peninggalan seperti kereta, perabotan, hingga media sembahyang masih ada dan bisa dilihat dengan mudah,” pungkasnya.

(rk/die/die/JPR)

Source link