Mengarsip Perilaku Bayi – Radar Madura

Penjelasan tentang memperhatikan bagaimana bayi memperoleh bahasa telah mengilhami saya untuk melakukan hal serupa. Dua hal yang menjadi amatan penting saya. Pertama pemerolehan bahasa dan kedua perilaku instingtif bayi. Karena itu, dibantu kecanggihan teknologi, saya memvideo segenap kelucuannya untuk mendengarkan bunyi bahasa: ocehan, kemunculan kata, komunikasi verbal yang mulai terbangun, serta memperhatikan bagaimana pola perilakunya. Semua itu dibangun dalam bahasa Madura dan sesekali bahasa Indonesia.

Salah satu perilaku awal bayi adalah kemampuan intuitifnya untuk berkomunikasi. Komunikasi pertama, selain tangisan, yang dilakukan bayi adalah ocehan (babbling). Saya mencatat, misalnya, umur dua bulan dia sudah mengoceh. Umur 7 bulan, beberapa konsonan dalam ocehannya sudah muncul seperti /baba/, /adadada/, /papapa/, /wawawa/. Bahkan, pada bulan berikutnya, dia sudah bisa ”menyahut.” Misalnya, saat kami ”memarahinya,” dia akan merespons dengan ocehan /apah/ dengan intonasi tinggi.

Umur 1 tahun, dia sudah mulai bisa mengucapkan satu kata. Disusul pada perkembangan berikutnya, mulai muncul frasa hingga banyak kosa kata yang mulai dikuasainya di ulang tahun kedua ini, 27 Januari 2018. Sebagaimana referensi, kata-kata yang sulit diucapkan biasanya terlafalkan pada suku kata terakhirnya. Selain itu, pada periode ini, sering ia mengoceh (berbahasa) tidak jelas, seperti memperagakan diri seolah sedang menelepon. Tempo bahasanya cepat, tetapi tidak bermakna. Ocehannya mirip tuan Shaun dalam kartun Shaun The Sheep.

Lain bahasa, lain pula dengan perilakunya. Dalam rangka mengarsip perkembangannya, saya mencatat perilakunya yang muncul dengan sendirinya dan perilaku yang diajari. Perilaku yang diajari antara lain melambaikan tangan sambil mengatakan /dada/. Saya juga mengajarinya tos, bersalaman, berpelukan, bertepuk tangan, dan sebagainya.

Ada juga perilaku yang secara instingtif muncul dari dirinya sendirinya. Kami tidak mengajarinya. Misalnya, jika dia buang air besar, dia akan bersembunyi di balik gorden atau di mana saja yang membuatnya aman dari pandangan kami. Jika kami mengintipnya, dia akan marah. Pernah di usia 10 bulan, saya memberinya jambu air. Dalam kondisi belum bergigi, dia berusaha mengunyah buah itu. Gagal. Beberapa saat kemudian, dia menghantam-hantamkan buah itu ke meja sehingga muncratlah airnya. Dia lalu mengisap air pada bagian yang sudah bopeng. Setelah itu, dia mengulang-ulang perbuatan itu.

Dalam pemerolehan bahasa pun, beberapa kosa kata muncul tanpa kami ketahui siapa yang mengajarinya. Ada juga yang muncul karena terus-menerus didengarkan. Ada yang muncul karena diajari, seperti menyebut nama-nama binatang. Dua kasus terakhir itulah yang di usia dua tahun ini yang membentuk pemerolehan bahasanya.

Pada kasus itulah saya melihat dua teori pemerolehan bahasa berlaku, yakni teori behaviorisme yang dipelopori John Locke dan teori innatisme yang dipelopori Noam Chomsky. Bagi teori behaviorisme, otak bayi ketika lahir sama sekali seperti kertas kosong yang nanti akan diisi dengan pengalaman-pengalaman. Bahasa akan diperoleh dan dikuasai karena faktor kebiasaan dalam pembelajaran stimulus-respons. Semua pengetahuan bahasa tersebut dibentuk melalui peristiwa-peristiwa linguistik yang diamati dan dialami manusia.

Berbeda dari teori behavioristik, Chomsky mengatakan bahwa anak lahir sudah dengan innate properties (bekal kodrati) dalam bentuk faculties of the mind (kapling-kapling pikiran) yang salah satu bagiannya khusus untuk memperoleh bahasa, language acquisition device (LAD). Bagi Chomsky, anak memperoleh bahasa sama seperti dia memperoleh kemampuan berdiri dan berjalan. Dengan demikian, kemampuan yang dimiliki manusia telah terprogram secara biologis agar manusia dapat belajar bahasa. Lingkungan bagi Chomsky hanya berfungsi sebagai pemberi masukan dan LAD yang akan mengolah masukan dan menentukan apa yang dikuasai lebih dulu seperti bunyi, kata, frasa, kalimat, dan seterusnya.

Saya mengamati itu dalam rangka melihat konsep psikoanalisis yang mengatakan bahwa perilaku bawah sadar manusia ada hubungannya dengan pengalaman-pengalaman ketika bayi. Secara khusus, hal ini terekam dalam konsep seksualitas Sigmund Freud beserta segala perangkatnya tentang id, ego, dan superego. Pengalaman-pengalaman bayi adalah artefak yang akan memengaruhi bawah sadarnya di kemudian hari.

Dengan mencatat perilaku bayi itu, saya kelak akan mencari hubungan dengan perilakunya saat dewasa dalam kerangka yang lebih ilmiah dan berusaha menemukan kebijakan sebagai orang tua dari kesadaran ini. Selain itu, dengan menuliskannya, saya sedang bekerja untuk keabadian sebagaimana dikatakan Pramoedya Ananta Toer. Dengan menuliskan sepenggal perjalanan bayi selama dua tahun ini, saya sedang mengarsipkan perilakunya. Saya yakin tulisan ini kelak akan dibaca dengan pemahaman yang matang sambil tersenyum geli. Selamat ulang tahun, Yudhistira.

*)Direktur Komunitas Stingghil, Sampang. Mengajar di Ganesha Operation Sampang.

(mr/*/bas/JPR)