Mengenang Perjuangan, Meneguhkan Hati, Melanjutkan Inovasi Abah Yat – Radar Mojokerto

MOJOKERTO – Rumah Sakit Islam (RSI) Sakinah Mojokerto menggelar doa dan tahlil bersama dalam rangka memperingati haul KH Achyat Chalimy atau Abah Yat.

Mengusung tema: Mengenang Perjuangan KH Achyat Chalimy untuk Meneguhkan Hati dan Melanjutkan Inovasi, acara ini dipusatkan di halaman gedung Al Muawwanah RSI Sakinah, Jumat kemarin (20/4).

Tak kurang dari 570 tamu undangan yang berasal dari jajaran organisasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten dan Kota Mojokerto, mulai tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC) hingga ranting hadir.

Selain itu, juga dihadiri perwakilian Pemkab Mojokerto dari dinas kesehatan, masyarakat Sooko dan sekitarnya, serta seluruh segenap jajaran direksi dan karyawan RSI Sakinah. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dipimpin oleh Ketua Rais Syuriah PC NU Kota Mojokerto KH Rofii Ismail. Pada acara inti diselenggarakan pengajian umum oleh KH Ahmad Muwaffiq, asal Jogjakarta.

Pengurus Perkumpulan Kesehatan Sakinah Mojokerto, KH Masrur Sa’dulloh, mengungkapkan perasaan syukurnya karena mampu menggelar peringatan haul ke-27 KH Achyat Chalimy. Mengingat haul tersebut merupakan kali pertama diselenggarakan di RSI Sakinah.

”Harapannya, mulai dari tingkat pengurus sampai karyawan bisa terlibat dalam mendoakan orang yang sangat berjasa pada rumah sakit, KH Achyat Chalimy,” paparnya. Kiai yang juga menjabat wakil Rais Syuriah PC NU Kabupaten Mojokerto ini menyatakan, keberadaan RSI Sakinah ini tidak bisa lepas dari jasa Abah Yat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin, Kota Mojokerto.

Sebab, beliau juga merupakan tokoh utama pendiri RSI Sakinah. Kiai Sa’dulloh menceritakan, berdirinya RSI Sakinah berawal dari prakarsa Abah Yat yang terilhami jumputan atau patungan beras untuk membantu warga terdampak musibah bencana Gunung Kelud.

Kemudian dengan azas gotong royong, Abah Yat menginisiasi warga Mojokerto untuk patungan beras segenggam demi segenggam. Setelah beras yang terkumpul, kemudian dijual dan uangnya digunakan untuk membeli lahan bekas rumah makan di Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

”Berdirinya rumah sakit ini adalah perjuangan para kiai, terutama KH Achyat Chalimy. Sehingga tercipta sebuah rumah sakit yang bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat,” paparnya. Menapaki usia ke-27, pelayanan RSI Sakinah terus mengalami peningkatan yang cukup pesat.

Hingga saat ini rumah sakit yang di bawah naungan NU itu mampu melayani 200 pasien per hari. Dan saat ini, RSI Sakinah dilanjutkan oleh para generasi penerus Nahdliyin. Kiai Sa’dulloh menyatakan, salah satu tujuan digelarnya haul Abah Yat adalah sebagai pengingat untuk mengenang perjuangannya dan melanjutkan cita-citanya.

”Harapannya, agar bisa menjadi perekat di antara orang-orang di lingkungan Nahdliyin. Baik di pengurusan NU maupun di RS Sakinah. Rumah sakit tidak hanya untuk orang NU saja, tetapi juga bisa memberikan pelayanan kepada semua masyarakat. Seperti NU yang rahmatan lil alamin,” tandasnya.

KH Ahmad Muwaffiq menambahkan, KH Achyat Chalimy merupakan salah satu santri KH Hasyim Asy’ari yang berjasa dalam perjuangan pembentukan bangsa dan negara. Namun, Abah Yat juga memiliki kepedulian di bidang pendidikan dan kesehatan. Hal itu dibuktikan dengan berdirinya beberapa lembaga pendidikan dan kesehatan selama masa hidupnya.

”Berkat perjuangan KH Achyat Calimy, rumah sakit yang awalnya hanya didirikan dari jumputan beras bisa menjadi sebesar ini,” imbuhnya. Kiai asal Jogjakarta ini menambahkan, di tubuh NU, rumah sakit merupakan bidang yang baru.

Oleh sebab itu, dia berpesan agar generasi penerus saat ini untuk lebih memperkuat manajemen dan terbuka seperti manajemen NU. ”Kalau bisa juga menggali khazanah di bidang kesehatan dan obat-obatan yang dimiliki NU,” pungkasnya.

(mj/ram/ris/JPR)

Source link