Adik kandung anggota DPRD Kota Serombotan tersebut, I Ketut Suarka saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) menjelaskan almarhum sempat koma selama 10 hari. “Sebelum meninggal, kakak saya itu sudah biasa tapi bolak-balik kondisinya membaik dan drop lagi. Tepat saat Penampahan Galungan ia sudah drop itupun langsung koma sampai di Penampahan Kuningan meninggal dunia. Itu juga bertepatan saat otonannya, mungkin koma 10 hari itu menunggu hari lahirnya,” urai Suarka di Kertha Semadi, Denpasar Minggu kemarin (10/6). 

Sebagai saudara yang terdekat, Suarka mengaku merasa kehilangan sosok kakak kandungnya yang sangat loyal dengan masyarakat. Namun, dirinya juga mengungkapkan kakaknya itu memang memiliki riwayat kencing batu dan penyakit jantung. Sehingga saat kencing batunya kambuh tiga bulan lalu terjadinya kompilkasi dan penyumbatan pada saluran darah. Sehingga harus dirawat di ruang ICU, RS Sanglah untuk mendapatkan perawatan. “Pas di ICU juga sudah sempat  bisa duduk sendiri, bahkan disuruh cari sinar matahari sama perawat di sana. Tapi akhirnya seperti ini juga,” terangnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Suarka menjelaskan sebelum kakaknya mencalonkan diri menjadi anggota dewan, almarhum merupakan pegawai di Pemkab Gianyar. Sedangkan dua tahun setelah pensiun, almarhum mencalonkan diri pertama kali, dan terpilih menjadi DPRD. Di usianya ke 64, I Nyoman Sukanadha meninggalkan seorang istri, empat orang anak, dan sebelas cucu. 

Lantaran menunggu hari baik untuk pengabenan, jenazah Sukanadha saat ini dititip di Rumah Duka, Kertha Semadi hingga tanggal 4 Juli mendatang. Karena saat itu jenazahnya baru bisa dibawa pulang untuk prosesi adat desa setempat. “Pengabenannya tanggal 6 Juli 2018 ini, tapi jenazahnya akan dibawa pulang dua hari sebelumnya supaya krama desa juga bisa majengukkan di rumah. Di samping itu kalau dibawa pulang jauh hari sebelum hari H kasihan juga krama yang magebagan,” imbuh pria asli Besan, Dawan, Klungkung tersebut. 

Di tempat yang sama, istri almarhum Sukanadha, Nyoman Martini mengungkapkan tiga bulan lalu saat operasi kencing batu suaminya sempat diperbolehkan pulang. Belum sehari di rumah, keadaan Sukanadha menurun  kembali sehingga langsung dibawa ke rumah sakit. “Tepat tanggal 6 Maret lalu bapak operasi, sudah langsung bisa pulang. Tapi besoknya drop kembali tanggal 7 Maret itu. Selama di rumah sakit juga ada lima kali bolak-balik kondisi kesehatannya, drop dan pulih kembali,” tandas pensiunan pegawai PDAM Gianyar tersebut.

Martini juga mengaku, sebelum masuk rumah sakit suaminya itu sering mengatakan sesuatu yang dianggapnya sebagai firasat. Karena tipe suaminya yang tidak romantis, tiba-tiba saja ia diberlakukan sangat romantis. “Sempat ia bicara kalau ingin membahagiakan saya, anak-anak, dan cucunya. Di samping itu ia juga pernah bilang bagaimana kalau di rumah ada karangan bunga turut berduka cita untuk bapak. Tapi saya lain-lain saja pembicarannya,” imbuh Martini. 

(bx/ade/bay/yes/JPR)

Source link