Menjaga Tradisi Batik Tulis di Kota Delta – Radar Surabaya

Worskhop di Museum Mpu Tantular, Buduran, ini baru digelar sejak enam bulan lalu. “Kegiatan membatik ini durasinya dua jam. Sejauh ini sudah lumayan bagus respons dari masyarakat,” ujar Antonius Juniarto, koordinator Sanggar Citraleka, kemarin.

Berbeda dengan kursus melukis, yang diikuti banyak orang, menurut Juniarto, peserta workshop batik masih sangat terbatas. Rata-rata hanya enam sampai sembilan orang. Sesekali bisa lebih dari 10 orang. Ini karena proses membuat batik tulis tradisional membutuhkan ketekunan dan ketelatenan. 

“Proses membatik itu memang lama. Mulai dari nyanting, pewarnaan, setelah diwarnai kemudian dilorot lilinnya, sampai selesai,” ujar pria yang kerap mengikuti kegiatan melukis on the spot itu.

Yang menarik, workshop membatik di Museum Mpu Tantular ini dibimbing oleh sejumlah seniman lukis Kota Delta. Juniarto, yang dikenal sebagai koodinator Komunitas Perupa Delta, menjadi pembimbing utama. “Kita ingin tunjukkan bahwa seni rupa itu sangat luas. Batik ini juga termasuk seni rupa,” katanya. 

(sb/rek/rek/JPR)