Kepala SDN 2 Sonorejo Widyatiningsih mengatakan, dua kelas di sekolahnya yang digunakan sebagai gudang, salah satunya sebagai penitipan barang-barang milik BPPKAD setempat. “Karena BPPKAD Blora masih belum punya gudang, makanya barang-barang ini dititipkan di sekolah dulu,” jelasnya Jumat (4/5).

Penitipan ini, lanjut Widyati, sapaannya, berlangsung sebulan lalu. Karena setelah adanya salah satu puskesmas yang melakukan akreditasi. Dan, barang-barang milik puskesmas itu diberikan kepada BPPKAD. 

KRISIS SISWA: Salah satu penjaga SDN 2 Sonorejo menunjukkan kelas dijadikan gudang.
(M. Mahfudz Muntaha/Jawa Pos Radar Blora)

“Makanya di ruangan itu banyak digunakan barang seperti komputer dan barang puskesmas,” imbuhnya. Sedangkan, satu kelas lainnya, digunakan menyimpan bangku-bangku tidak terpakai. 

Meski kekurangan siswa, menurut dia, belum mendapat kepastian ada rencana digabung atau merger. Jika harus dimerger dengan SDN 1 Sonorejo, itu sangat tidak mungkin. Alasannya, karena SDN 2 Sonorejo dan SDN 1 Sonorejo jaraknya hampir 5 kilometer. 

Sekretaris Dewan Pendidikan Blora Singgih mengatakan, keberadaan SDN 2 Sonorejo seharusnya sudah dimerger. Justru, kasihan siswanya saat ini hanya ada 16 siswa. Belum lagi kelas VI ini sudah lulus. “Lebih baik dimerger saja, kasihan siswanya,” ujarnya.

(bj/fud/rij/bet/JPR)

Source link