Mengutip keterangan pihak medis, Suarnata mengatakan bahwa penyakit anaknya merupakan bawaan sejak lahir. Namun karena terkendala biaya dia tidak secara rutin kontrol ke rumah sakit. Sehingga kesehatan anaknya semakin memprihatinkan. Anak tersebut dicurigai mengalami penurunan status gizi akibat kelainan bawaan. Usai 4 tahun berat badannya hanya 6,8 kilogram.

“Saya hanya bekerja di perusahaan speed boat. Tukang ngentungang tali ne, tidak bisa membiayai pengobatan anak,” tutur Suarnata ditemui di RSUD Karangasem.

Suarnata mengatakan Widiantari lahir premature. Lahir saat usia kandungan 8 bulan, dengan saat lahir berat 1,5 kilogram. Hingga berusia 7 bulan, bocah itu tidak menunjukkan tanda-tanda merangkak, belajar ngomong juga tidak bisa. Sehingga diketahui bahwa leher bocah itu tak bisa tegak. Hingga saat ini hanya terbaring saja. Ketika berusia 2,5 tahun, Widiantari sempat diperiksakan ke RSUD Klungkung. Biaya pengobatan sekitar sekitar Rp 36 juta. “Karena tidak punya biaya akhirnya batal,” terang dia.

Widiantari hanya sempat dibawa ke tukang urut, tapi tak juga ada perubahan. “Saya memang punya BPJS Kesehatan, ditanggung perusahaan. Tapi hanya ditanggung istri dan dua anak. Anak saya ini tidak ditanggung, makanya saya kesulitan biaya,”  bebernya, seraya menyebutkan mendapat gaji Rp 1,8 juta perbulan.

Pihak Puskesmas Manggis I, yang merujuk anak itu ke RSUD Karangasem, kemarin, mengakui bahwa sejak usia 6 bulan anak itu sudah kelihatan kekurangan asupan gizi. Makanya sempat diberikan makanan tambahan. Pihak orang tua disarankan melakukan cek kesehatan secara rutin ke rumah sakit. Ternyata tidak dilakukan karena alasan biaya.

Bagaimana dengan perawatan saat ini? Kepala Instalasi Humas dan Pemasaran RSUD Karangasem, I Gede Dedy Artho mengatakan, bocah itu diputuskan rawat inap. Disinggung terkait biaya pengobatan, Dedy mengaku masih mengajukan ke Pemkab Karangasem melalui Dinas Sosial.  Pihak keluarga sudah sempat ke Dinas Sosial Karangasem, mencoba masuk peserta BPJS Kesehatan lewat jalur rekomendasi Dinas Sosial. Jalur ini merupakan kebijakan bagi warga kurang mampu. Di mana, kartu PBJS-nya bisa langsung digunakan, tidak perlu menunggu aktif setelah 14 hari. Namun upaya itu gagal karena BPJS Kesehatan semakin ketat.  Orang tua bocah itu sudah masuk peserta BPJS Kesehatan dibiayai perusahaan tempatnya bekerja. Jalur rekomendasi hanya akan dilayani ketika dalam satu KK warga miskin itu belum ada terdaftar BPJS Kesehatan. 

(bx/wan/yes/JPR)

Source link