Modernisasi Nelayan Melalui Teknologi dan Pendidikan – Radar Jember

 “Nelayan di Jember ini, mohon maaf, daya jangkauannya masih terbatas. Belum bisa sampai ke laut jauh, sehingga hasil tangkapannya pun terbatas,” tutur Kuntjoro Dhiya’uddin, Kepala SMK Perikanan dan Kelautan Puger, saat dihubungi Jawa Pos Radar Jember. 

para nelayan di Jember pun tidak bisa mendapatkan banyak ikan dengan nilai ekonomis yang tinggi karena hanya bisa melaut di laut dangkal. Sebaliknya, laut jauh yakni yang masuk dalam kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di selatan Pulau Jawa, justru banyak dimanfaatkan oleh nelayan asing. “Oleh karena itu, sejak adanya genderang perang melawan illegal fishing yang digalakkan Menteri Kelautan Susi, semestinya juga diimbangi oleh penggunaan kapal dengan teknologi tinggi oleh nelayan di Jember. Tetapi realitanya, itu belum dilakukan,” jelas Kuntjoro. 

Selain itu, dari sisi sumber daya manusia, nelayan di Jember juga dinilai belum bisa seperti nelayan di daerah lain yang bisa bertahan sampai beberapa hari di laut lepas. Padahal, menurut Kuntjoro, nelayan di Jember memiliki keberanian melaut yang cukup tinggi. “Oleh karena itu, untuk magang, seringkali kita kirim anak didik kita untuk belajar di Benoa Bali. Di sana, nelayan bisa bertahan di laut minimal 3,5 bulan. Sedangkan di kita, mohon maaf, cuma sehari sudah pulang, padahal mereka cukup berani sebenarnya,” ujar Kuntjoro. 

Beberapa jenis ikan dengan nilai ekonomis tinggi seperti ikan tuna, baru bisa didapatkan di rumpon setelah nelayan berusaha menjaringnya selama beberapa hari. Oleh karena itu, modernisasi peralatan nelayan juga mesti diimbangi oleh peningkatan SDM nelayan secara bersamaan. “Saya sering diajak diskusi di Seskab. Saya katakan, modernisasi nelayan kita memang sudah terlambat sekian tahun, tapi tetap harus dikerjakan mulai dari sekarang,” jelas alumnus magister Psikologi Industri Untag Surabaya ini. 

Kapal tangkap modern, menurut Kuntjoro, juga perlu dilengkapi oleh tempat tinggal yang nyaman, sehingga nelayan bisa bertahan hidup di laut lepas selama beberapa hari. Jika pun kapal nelayan belum bisa dimodernisasi, alternatif lainnya yang lebih mudah dilakukan, menurut Kuntjoro, adalah menggunakan alat tangkap yang lebih modern. “Agar tidak lagi bergantung pada musim. Selain itu, motor mesin yang ditempel di kapal nelayan tradisional kita itu kurang aman karena dengan bermesin tempel, kapal mereka labil jika terkena ombak. Bahaya,” tegas Kuntjoro. 

Dengan sentuhan pendidikan yang memadai, Kuntjoro menilai profesi nelayan di era modern masih cukup menjanjikan. Hal ini terbukti dari banyaknya anak didiknya yang berhasil direkrut oleh berbagai perusahaan perikanan laut dari Jepang, Taiwan, dan negara-negara maju lainnya. “Mereka bisa dikontrak Rp 603 juta untuk masa kerja 3 tahun. Selain gaji menggiurkan, bekerja di perusahaan asing juga lebih aman karena kapalnya juga berteknologi tinggi, sehingga cukup aman dalam berlayar,” pungkas Kuntjoro. 

(jr/ad/ras/das/JPR)

Source link