Momentum Kebangkitan Sastra Tapal Kuda – Radar Jember

Pasalnya, Buku Antologi TIMUR JAWA: Balada Tanah Takat terdiri atas puisi-puisi pilihan penyair timur Jawa. Mulai dari Pasuruan, Probolinggo, Lumajang,  Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi. Buku ini sendiri dikuratori oleh Akhmad Taufiq, Dwi Pranoto, dan Siswanto. 

Hanya 50 penyair yang lolos puisi-puisinya untuk dimuat dalam antologi ini yang kali ini dterbitkan oleh Balai Bahasa Jatim. Launching antologi ke-2 ini dibuka dengan penampilan grup musikalisasi puisi Simulakra, Siswa dari Muncar, dan ditutup dengan pembacaan puisi oleh M. Lefand dan Halim yang sangat menyentuh dan memesona audiens.

Dalam kegiatan launching buku tersebut, juga dilakukan diskusi bersama Pakar Sastra Dr. Akhmad Taufiq dan Mashuri dari Balai Bahasa Jawa Timur. Taufiq, selaku Ketua LP3M unej, sekaligus kurator menyatakan bahwa proses penerbitan dan penyelenggaraan peluncuran buku ini melibatkan tiga lembaga, yakni; Pusat Pengembangan Literasi LP3M Unej, Balai Bahasa Jatim, dan Forum Sastra Timur Jawa.

Merela memiliki komitmen kuat dalam pengembangan literasi sastra dan budaya. Taufiq berharap LP3M dapat menjadi wahana dan jembatan kebudayaan di timur Jawa ini. “Ini merupakan moment kebudayaan yang yang diharapkan dapat memberikan dampak besar terhadap perkembangan kebudayaan di timur Jawa ini dan Forum Sastra Timur Jawa telah menandai hal ini,” jelasnya.

Pihaknya berharap ini bisa menjadi pelecut bagi seluruh sastrawan di daerah tapal kuda ini untuk bisa bangkit dan terus berkarya. Sehingga kedepan karya-karya sastra dari Jember dan sekitarnya juga bisa dikenal di kancah dunia sastra di tingkat Nasional bahkan Internasional sekalipun.

Ketua Panitia M. Hadi Makmur, sekaligus koordinator Pusat Pengembangan Literasi menyatakan bahwa acara ini dihadiri para penyair dari tujuh kota di kawasan timur Jawa. Selain itu, ada juga mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum untuk duduk bersama membicarakan dan mengapresiasi perkembangan sastra timur Jawa. 

“Hadirnya Antologi ke-2 ini luar biasa dan dibutuhkan ekslorasi secara terus-menerus dan intensif terutama terkait tema-tema yang luar biasa di bentangan alam tanah timur Jawa,” tegasnya. Karya ini jelas menjadi salah satu peta penting dalam peta sastra Jawa Timur dan nusantara saat ini.

Sementara itu, Dwi Pranoto, salah seorang kurator menyampaikan bahwa soal identitas dalam antologi puisi pasti menjadi isu penting; tanpa harus terjebak oleh komodifikasi isu identitas itu sendiri. Siswanto, selaku moderator memberikan penegasan kegiatan ini merupakan salah satu ikhtiar forum sastra timur Jawa yang bukan hanya bertujuan untuk mendekatkan sastra pada masyarakat, tetapi di sisi lain juga untuk meneguhkan kesadaran akan tanah timur Jawa baik secara sosio-kultural maupun estetika.

(jr/ram/das/JPR)

Source link