Muncul Banyak Branding Literasi – Radar Jember

Survey yang dipimpin Dra Hj Ghoniyul Khusnah MSi, kemarin fokus di tiga sekolah. Diawali dari SMPN SMPN 1 Ranuyoso, SMPN 2 Klakah dan SMPN 2 Lumajang. Tim  menemukan banyak temuan mengejutkan.

Jika sebelumnya menemukan branding literasi SMPN 1 Candipuro bernama Moncer kepanjangan dari Morning Kreatif Reading. Dan di SMPN 1 Pasirian ada IQRO kepanjangan dari Intensive and Qualified Reading is On. Kemarin beda lagi.

Di SMPN 1 Ranuyoso ada Gemerlap (Gerakan Membaca Rutin Literasi Al Quran Pagi). Di SMPN 2 Klakah ada Gadis Menari (Gerakan Disiplin Membaca Setiap Hari). Dan di SMPN 2 Lumajang ada Lentera (Literasi Edukasi Terintegrasi Budaya Baca)

Ghoniyul terkejut dengan banyak munculnya budaya literasi di sekolah dengan beragam branding. Hal tersebut diikuti dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Ada PPK berbasis kelas, berbasis budaya dan PPK berbasis masyarakat. “Semua mulai muncul dan tampak dari aktivitas sehari-hari murid di sekolah,” katanya.

Nur Wahid Budiono SPd, Urusan Kesiswaan SMPN 2 Lumajang kemarin sempat mengungkapkan dampak positif PPK dan budaya literasi di sekolahnya. “Dari workshop itu bagus, nambah wawasan. Di sekolah kami sudah 80 persen dilaksanakan,” katanya.

Tidak ada lagi murid yang tutur kata dan tindak tanduknya tidak terpuji. Mulai ada perubahan setelah menerapkan arahan saat workshop. Cara mengarahkannya dengan mengumpulkan semua organisasi sekolah dan diberi arahan dan ajang kreasi.

Wahid sapaan akrabnya mengakui memang ada kenda. Yakni pemahaman wali murid yang masih belum seratus persen. “Di sekolah ada perubahan karakter, tapi di rumah kadang belum terpantau. Solusinya, wali kelas melakukan kunjungan ke rumah murid,” katanya.

Dia merasa terkesan dengan pendidikan karakter dan budaya literasi ini. Sebab, sangat positif merubah mental anak kearah yang lebih baik. Dan berharap ditingkatkan lagi dengan menambah agenda workshop.

Sementara itu Kasek SMPN 2 Lumajang Drs Jemari MPd menegaskan penerapan literasi sudah lama berjalan. Berangkat dari tim yang dibentuk melalui SK kemudian melaksanakan program. “Kegiatan sudha berjalan lama. Tim itu melakukan sosialisasi, menyusun program, lalu melaksanakan,” katanya.

Selanjutnya, pihaknya melakukan pengembangan. Dengan cara masuk ke mata pelajaran masing-masing. “Termasuk karakter. Semua ditanamkan melalui KBM di sekolah pada setiap mata pelajaran,”pungkasnya.

(jr/fid/ras/das/JPR)

Source link