Mupu atau Gagal, Biyu Kukung Harus Dilaksanakan – Bali Express

Petani di Bali memang masih kental dengan sistem adat dan tradisi, apalagi tergabung dalam wadah subak. ” Berbagai upaya dilakukan agar terhindar dari serangan hama, maupun  kekeringan di persawahan,”  papar salah satu krama Subak Mas, Desa Sayan, Ubud, Gianyar Ni Ketut Kaper kepada  Bali Express (Jawa Pos Group) di sela-sela melaksanakan upacara Biyu Kukung di sawahnya, Minggu (5/11) kemarin.

Ketut Kaper  mengaku, selalu  melaksanakan upacara Biyu Kukung setiap padi yang ditanamnya mulai berbuah. “Kalau untuk panennya memang tidak tetap setiap enam bulan. Karena itu, mupu (panen) atau tidak mupu (gagal), saya tetap melaksanakan Biyu Kukung. Berharap padi yang baru berbuah ini terhindar dari serangan hama, dan hasilnya bagus ketika panen nanti,” terang wanita 70 tahun tersebut.

Saat upacara Biyu Kukung, Ketut Kaper dibantu oleh seorang cucu perempuannya untuk menghaturkan banten di areal sawah. Ditambahkannya, ada beberapa upacara yang harus dilakukan sebelum melaksanakan Biyu Kukung. Sebelumnya ada yang disebut dengan upacara mendak toya yang dilakukan sebelum menanam bibit padi. Selanjutnya tedun ke carik, yaitu memulai bekerja di sawah untuk memperbaiki irigasi. Setelah itu, baru mulai menanam bulih  (bibit padi). “Upacara selanjutnya adalah nuasen, untuk menanam bibit pada hari yang dianggap baik. Setelah tumbuh sekitar sebulan, diupacarai juga yang disebut dengan ngebulanin. Yaitu dengan cara nunas tirta di Pura Masceti atau Ulun Suwi. Dilanjutkan dengan pinunas (mohon) dan nyungsung (menuntun), ketika padi sudah berumur sekitar dua setengah bulan. Sehabis itu, baru melaksanakan Biyu Kukung ini,” papar ibu empat anak tersebut.

Ketut Kaper mengakui pernah beberapa kali tidak mupu (panen). Dikarenakan padinya tidak tumbuh dengan bagus. Di samping itu, warna daunnya juga  berwarna merah kecokelatan, dan  tumbuhnya juga pendek-pendek, tidak seperti padi pada umumnya. Tetapi, meski gagal panen, dirinya tetap melaksanakan upacara Biyu Kukung.  “Supaya tidak menjadi lebih parah, dan tetap berharap agar dikemudian hari, padi bisa tumbuh normal kembali. Baru enam bulan lalu saya gagal panen, tapi saya jalankan saja prosesinya semua. Sehingga sekarang bisa lumayan bagus tumbuh dan beberapa bulan lagi bisa dipanen,” terangnya.

Biasanya yang menyebabkan tidak panen, lanjutnya, ada berupa virus dari padi itu sendiri. “Jika serangan hama, bisa saya atasi dengan menyemprot atau menangkap hewan pengganggu tanaman padi tersebut,” imbuhnya.

Ketut Kaper selalau membuat lelakut (orang-orangan di sawah), jika padinya sudah kelihatan menguning. Karena sudah akan panen, otomatis burung- burung dan tikus pasti datang. Lelakut yang ia gunakan untuk menakuti burung. Sedangkan tikus maupun belalang ia semprot dengan bahan kimia, agar tidak dicari  hama.

Di tempat berbeda, Rektor IHDN Denpasar, Prof. I Gusti Ngurah Sudiana menjelasakan upacara Biyu Kukung dilaksanakan ketika padi mulai bunting. “Dalam banten Biyu Kukung identik dengan jajan warna putih dan kuning. “Tujuan dari Biyu Kukung untuk memohon kepada Bhatari Dewi Sri supaya padi tersebut menjadi jelih lambih. Jelih yang berarti padat berisi. Sedangkan lambih merupakan panjang dan subur,” terang pria asli Karangasem tersebut.

Sudiana menyebutkan, upacara tersebut merupakan hal yang mulia. Di mana mengharmoniskan pemilik padi, dengan isi alam sebagai tanda syukur. Di samping itu juga permohonan kepada Tuhan. “Agar tumbuh subur, berbuah lebat dan hasilnya berlipat-lipat. Yang diharapkan dapat melebihi dari bibit yang telah ditanam sebelumnya,’ ujar Sudiana.

Upacara ini, lanjutnya, nyambung dengan sebuah tradisi magoak-goakan. “Anak-anak  biasanya mencari jajan di tempat upacara Biyu Kukung. Tetapi sebelumnya sudah dipersembahkan pada proses upacara Biyu Kukung itu,” terang pria yang juga sebagai Ketua PHDI Bali tersebut.

Sudiana menjelaskan  Biyu Kukung, dimana Biyu berarti pisang, dan Kukung berasal dari kata kung yang berarti cinta. Dengan demikian, lanjutnya,  Biyu Kukung merupakan upacara yang penuh rasa cinta, terlebih menghasilkan padi maupun segala hal baik, untuk para petani atau krama subak dan orang lain.

Jika tidak dilaksanakan, lanjutnya,  petani atau lahan pertanian itu akan menghasilkan padi yang tidak bagus. Mengakibatkan panen yang tidak sesuai dengan waktu, bahkan tumbuh padi juga akan terganggu dari hama maupun virus.

Ditambahkan Sudiana,  ketika mau panen, ada yang disebut dengan prosesi membuat tapakan (perwujudan) Bhatara Sri Sedana. Yaitu mengambil dari beberapa batang padi beserta bijinya, kemudian ditaruh pada lumbung (tempat menaruh padi).Hal itu dilakukan untuk ngadegang (meletakkan) Bhtara Sri, yakni  upacara yang dilaksanakan sebelum memotong padi saat panen. “Ngadegang Bhatara Sri dilaksanakan, mengibaratkan sudah sukses panen. Sehingga dapat disimpan pada sebuah tempat, yang disebut dengan lumbung. Sebagai tempat penyimpanan, untuk melengkapi kebutuhan makan sehari-hari, maupun untuk dijual nantinya,” terang Sudiana.

Ditegaskannya, padi yang baru panen tidak boleh langsung dijual, ketika masih ada di sawah. Harus setelah melaksanakan ngadegan Bhatar Sri di lumbung terlebih dahulu, setelah itu baru bisa dijual. Sudiana mengibaratkan sebagai simbol dari ngadegan Sri tersebut,  supaya hasil penjualan tersebut masari ke depannya atau ada manfaat berkelanjutan.  

(bx/ade/rin/yes/JPR)

Source link