Musim Hujan Baru Mulai, Delapan Tanggul Jebol – Radar Kudus

Delapan tanggul yang jebol itu, di antaranya di Sungai Kaliguwo, Dusun Premas, Desa Kronggen, Brati, pada 16 November lalu. Disusul tanggul Kali Pucang di Desa Tirem, Brati. Kemudian pada 17 November tanggul Kali Jaten di Desa Tanggungharjo, Grobogan. Disusul tanggul Kali Alam Desa Pojok dan Desa Plosorejo, Tawangharjo.

”Banjir bandang mengakibatkan saluran irigasi Dumpil jebol sepanjang 5 meter. Akibatnya menggenangi sekolah, tempat ibadah, dan area pertanian seluas 23 hektare yang ada tanaman padi berumur 24 hari. Juga merendam 250 rumah,” ungkap Kepala Bagian Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan Budi‎ Prihantoro.

Tanggul jebol lainnya, tanggung Kali Jajar Lama di Desa Kemloko, Godong, pada 23 November lalu. ”Tanggul ini sempat tiga kali jebol seusai diperbaiki secara gotong royong warga. Jebolan semakin lebar, menggenangi 25 hektare sawah dengan tanaman padi berumur 20 hari,” terangnya.

Di sungai yang sama, Kali Jajar Lama, Desa Werdoyo, Godong, juga ada enam titik tanggul yang jebol. Terakhir, pada 26 November lalu, tanggul Kali Tlecer di Desa Tunggu, Penawangan, juga jebol.

”Curah hujan yang tinggi di wilayah hulu Kecamatan Karangrayung, membut beberapa titik tanggul tak kuat menampung debit air. Akhirnya jebol,” ujarnya.

Kini, delapan tanggul sungai yang jebol selama siklon Cempaka itu, sudah ditangani secara darurat. ”Anggaran bencana tahun ini Rp 75 juta masih mencukupi. Kalau dana habis bisa mengajukan ke pemkab. Tahun depan akan dianggarkan perbaikan beberapa tanggul kritis tersebut, dengan dinormalisasi dan perbaikan permanen,” paparnya.

Menurutnya, penyebab jebolnya tanggul bukan hanya faktor alam, seperti curah hujan tinggi, namun juga karena perilaku manusia dalam mengelola sampah. Beberapa tanggul jebol itu, disebabkan tumpukan sampah yang di saluran sungai. Sehingga menutup aliran air.

”Seperti tanggul Kali Alam, Desa Plosorejo, Tawangharjo. Penyebab jebol hingga membanjiri permukiman, karena banyaknya pelepah pisang yang dibuang warga di sungai itu. Setelah dibersihkan, air cepat surut,” ungkap Kepala Seksi (Kasi) Penanggulangan Banjir dan Kekeringan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Grobogan Slamet Setiyono.

”Kami sudah gencar sosialisasi ke warga. Kami berharap masyarakat sadar tak membuang sampah sembarangan. Juga tetap menjaga lingkungan, agar tetap bersih, sehingga tak terjadi banjir lagi,” harapnya. 

(ks/int/lin/top/JPR)