Nama Siluman Masuk Tim Pemerhati – Radar Jember

“Padahal, saya tidak pernah melamar atau diminta menjadi pemerhati kesehatan P3K,” katanya. Dia menjelaskan dirinya diminta untuk datang ke Dinkes Jember karena masuk tim dalam program Dinkes Jember sebagai pemerhati. Akhirnya, dia ke sana untuk konfirmasi hal tersebut.

Setelah datang ke sana, dia diminta mengisi absensi dan menerima honor. Saat itulah, dia kaget karena diberi gaji sebagai tim pemerhati Dinas Kesehatan Jember. “Saya tanyakan ini tahun anggaran berapa, ternyata tahun anggaran 2017,” jelasnya. 

Ternyata, kegiatan tersebut sudah dilaksanakan dan tinggal pemberian honor. Padahal, perempuan yang akrab disapa Zika tersebut tidak pernah menjadi, melamar, maupun diminta menjadi bagian dari tim program Dinkes. “Saya merasa tidak dilibatkan, dan bukan profesi saya,” terangnya. 

Bila menjadi bagian dari pelaksana program tersebut, dirinya harus mendapat izin dari kantor tempat bekerjanya. Namun, tidak ada permintaan, perizinan pada dirinya, Dinkes langsung memasukkan namanya sebagai tim pelaksana program pada tahun 2017. “Saya tanya pada Kepala Dinkes, dia menjawab memang melibatkan wartawan dalam program itu,” terangnya. 

Kemudian, Zika juga bertanya pada staf yang memanggilnya, kenapa namanya bisa dimasukkan dalam tim tersebut. “Ternyata jawabnya, ada usulan, tapi saya tidak tahu dari siapa,” terangnya. 

Bahkan, dirinya juga sempat melihat ada SK tim pemerhati P3K dari bupati bulan Februari 2017. Namun, dirinya tidak pernah menerima surat keputusan (SK) tersebut. “Program ini sudah dilaksanakan, alasan baru dihubungi tahun 2018, ketua program tidak tahu harus menghubungi siapa, baru tahu nomor HP-nya sekarang,” jelasnya. 

Karena hal itu, Zika melaporkannya pada  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jember.  Nilai honor yang diberikan dalam program yang sudah selesai itu Rp 2 juta dipotong pajak. “ada kejanggalan dalam program yang melibatkan Zika yang notabene seorang Jurnalis,” kata Friska Kalia, Ketua AJI Jember.

Menurut Friska, dinas kesehatan harus menghentikan segala pemberian kepada jurnalis yang berpotensi mempengaruhi independensi. Sehingga, dia mengirimkan surat pada Dinkes Jember, meminta kejelasan pelibatan anggotanya sebagai tim pemerhati. “Kami meminta Dinkes Jember mengklarifikasi masuknya nama Zumrotun Solichah sebagai pemerhati tim P3K,” jelasnya. 

Kemudian, meminta Dinas Kesehatan untuk tidak melibatkan jurnalis dalam program apa pun yang tidak sesuai tugas dan fungsi jurnalis yang diatur dalam UU Pers No 40 Tahun 1999. Selain itu,  seluruh jurnalis yang berada di wilayah kerja AJI Jember diharapkan menjunjung dan patuh pada kode etik jurnalistik (KEJ).

Kepala Dinas Kesehatan Jember Siti Nurul Qomariah menjelaskan, Dinkes Jember memiliki beberapa program melibatkan lintas sektor. Salah satunya adalah media dan pemerhati. “Kegiatan sudah berjalan, baru kita serahkan di akhir. Jadi, memang bukan bagi-bagi anggaran,” jelasnya. 

Ketika ditanyakan tentang keterlibatan Zika yang tanpa pengetahuan, Nurul mengaku tidak tahu kalau terjadi seperti itu. “Yang kita tahu mereka dilibatkan dari awal dari kegiatan kesehatan,” akunya. 

Diakuinya, tidak semua program bekerja sama dengan media, hanya program tertentu yang membutuhkan publikasi agar diketahui masyarakat luas. “Nilai dua juta itu untuk satu tahun kerja, baru dicairkan akhir Januari, karena kesibukan untuk SPJ dan lain-lain dan keterbatasan waktu,” pungkasnya. 

(jr/gus/hdi/das/JPR)

Source link