Nawiryanto Tunjuk Edy Firman Cs – Radar Jember

Kepada Jawa Pos Radar Ijen Edy Firman mengatakan, pihaknya sudah mempelajari kasus kliennya. Setelah mempelajari, pihaknya merasa ada yang perlu dipertegas lagi dalam kasus ini, yakni asal muasal kasus jual beli tebu. “Kami ingin ada transparansi gelar perkara,” ujar Edy Firman. 

Menurut dia, asal muasal kasusnya adalah jual beli tebu, dan yang menjadi titik permasalahan adalah perjanjian beratnya yakni 30 ribu kuintal. Artinya, adanya penetapan tersangka kepada kliennya harus diperjelas lagi. “Itu yang menjadi target saya,” ujarnya. 

Menurut versi Edy Firman, kliennya Nawiryanto ini melakukan akad jual-beli tebu dengan Yanto Suharyono selaku pembeli. Saat itu, Yanto ditunjukkan lahan oleh kliennya dan ada persetujuan kepala desa. “Setelah itu, setelah dilihat, barangnya kurang, seharusnya pembeli tahu saat penafsiran,” ujarnya menjelaskan kronologi berdasarkan versinya. 

Setelah itu, lahan tebu ditafsir kemudian dibayar, baru Yanto memanen. Dari hal ini, menurutnya justru kliennya yang seharusnya melaporkan. Sebab, dia mengirim ke PG tanpa memberi laporan kepada kliennya. 

Perlu diketahui, Satreskrim Polres Bondowoso menetapkan Ketua DPC Hanura Nawiryanto Winarno dan istrinya Hj. Martini Alias Hj. Maman sebagai tersangka. Keduanya menjadi tersangka penipuan dengan korban Yanto Haryono (Pembeli).

Kasatreskrim Polres Bondowoso AKP Kamdo Ade Waroka mengatakan, suami-istri ini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang sama. Keduanya dijerat pasal 378 KUHP subsider 372 KUHP tentang Penipuan.

Dijelaskan, suami-istri ini adalah pengusaha tebu. Mereka memiliki banyak lahan di Bondowoso. Keduanya menjadi tersangka juga karena kasus tebu. Suami-istri ini ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan laporan Yanto Haryono, warga Desa Tal Kandang, Situbondo. Kronologinya, pada Maret 2013, tersangka menjual tebu miliknya kepada korban atas nama Yanto Haryono. Saat itu, akad penjualan 30.000 kuintal seharga Rp 910 juta. Kesepakatannya saat itu, pembayaran diangsur dari kurun waktu Maret hingga Juni 2013, dan akhirnya dibayar lunas.

Dalam kesepakatan tersebut, Yanto Haryono bisa memanen tebu milik tersangka. Rupanya, pada panen pertama, hanya keluar 14.000 kuintal. Selanjutnya, untuk memenuhi target sampai 30.000 kuintal, Yanto melakukan panen tahun 2014. Saat itu, tebu hanya ada 1.500 kuintal. Otomatis tersangka kurang sekitar 14.500 kuintal kepada pelapor

(jr/hud/aro/das/JPR)

Source link