Ngatono bertani di pulau Sungai Porong – Radar Surabaya

SEJAK 1980-an, Ngatono bercocok tanam di pulau kecil di tengah Sungai Porong, Desa Kebonagung, Porong. Sejak dulu dia sering bertemu buaya ketika hendak bekerja di pulau. Biasanya Ngatono naik perahu menuju ke pulau tanpa nama itu.

“Sudah tiga kali saya ketemu buaya di Sungai Porong. Sekali lewat pas di sebelah perahu,” tuturnya kepada Radar Sidoarjo pekan lalu. 

Ngatono warga Kebonagung yang bertani di pulau tengah Sungai Porong.

Ngatono mengaku tidak takut buaya. Alasannya, buaya di Sungai Porong tergolong jinak. Mungkin karena buaya sudah kenyang dengan makanan berupa ikan-ikan yang hidup di Sungai Porong. “Buaya itu juga takut manusia, tapi manusianya lebih takut sama buaya,” ujarnya lantas tertawa. 

Bapak tiga anak tersebut menuturkan, populasi buaya paling banyak di daerah sungai yang dalam. Mulai Awar-awar, Tangsari, Kendal, sampai Prambon. Warga sekitar juga membiarkan buaya itu menikmati hidup di alam bebas. “Kalau ketemu pas cari ikan, ya dilewati saja,” ujarnya.

Sebagai orang yang religius, Ngatono percaya bahwa selama kita tidak berbuat jahat kepada binatang seperti buaya, mereka juga tidak akan berbuat jahat kepada manusia. “Buaya kan makhluk Tuhan yang punya perasaan,” ujar pria yang bertani di Pulau Sungai Porong sejak 1983. 

Sementara itu, Kepala Desa Kebonagung Sumanto Dwi Retno mengatakan, pulau seluas 12 hektare di tengah Sungai Porong itu terbentuk secara alami sejak dulu. Daratan di tengah sungai itu ditanami palawija, tebu, kacang hijau, kacang panjang, kacang tanah, dan singkong. “Statusnya lahan milik negara dari Dinas Pengairan,” kata Sumanto.

Sejak 1980-an, pulau tanpa nama itu dikelola Ngatono, warga setempat. Meski sangat gersang, Ngatono mencoba menanam berbagai tanaman umur pendek. Hasil panennya lumayan, meski tidak sebagus di tanah sawah di Porong. “Pokoknya bisa buat makan sehari-hari,” tutur pria kelahiran 1957 itu. (mg/rek)

(sb/rek/rek/JPR)