Nikmati Tari di Sanggar Genjah Arum – Radar Banyuwangi

YANG jelek jadi bagus. Yang bagus (bisa) jadi jelek. Yang biasa-biasa saja bisa menjadi luar biasa. Yang (sebenarnya) luar biasa bisa jadi biasa-biasa saja. Bahkan, jadi tidak menarik (sama sekali!).

Semua itu disebabkan oleh satu kata: kemasan!

Ya. Kemasan berkelindan dengan kreativitas. Sebab, kreativitas selalu menghasilkan ‘sesuatu’. Sesuatu banget. Sangat istimewa. Berbeda dengan yang lain. Apalagi dengan yang sudah ada.

Gak usah jauh-jauh. Banyuwangi contoh konkretnya. Banyuwangi saat ini jauh berbeda dengan Bumi Blambangan lima tahun silam. Ketika itu, kota The Sunrise of Java itu masih seperti anak culun –untuk tidak menyebut anak desa. Tampil apa adanya. Adanya Banyuwangi seperti tidak adanya. Datang ke Banyuwangi seperti sedang tidak di Banyuwangi. Tidak ada kesan yang bisa dibawa pulang. Saat itu belum ada paket festival. Seperti sekarang. Potensi yang luar biasa belum disentuh. Seperti mutiara yang terpendam di dasar samudera.

Sekarang tidak lagi. Banyuwangi sudah berubah. Seperti emas yang tertimbun di dasar tujuh gunung (Tumpangpitu), Kota Gandrung kini sudah bersinar. Bahkan kilaunya mengalahkan emas Tumpangpitu.

Kini, tetabuhan alat musik tradisional Banyuwangi terus menggema. Merambah ke telinga dunia. Sampur penari gandrung terus melambai. Memanggil-manggil. Mengundang para wisatawan untuk datang. Menikmati gerak gemulai tarian eksotis. Untaian doa yang menguar dari pergelaran puluhan ritual terbawa awan. Ke berbagai penjuru. Lalu jatuh menjadi lembaran-lembaran undangan.

Hampir semua orang yang datang ke Banyuwangi merasa nyaman. Lalu pulang membawa sesuatu. Mereka, rata-rata, terkesan akan suguhan yang diterimanya. Meski mereka juga mengakui: sebenarnya materi yang dilihatnya sederhana. Yang juga ada di tempat asalnya. ”Tapi kenapa materi yang sederhana itu kok punya daya pikat ya?”

Pertanyaan itu disampaikan oleh Eri Suhariyadi. Direktur Jawa Pos Radar Jogja. Kebetulan Eri dan para direktur Jawa Pos Radar se-DIJ, Jateng, Jatim, dan Bali akhir pekan kemarin berkumpul di Banyuwangi. Mereka hadir bersama para manajernya. Total ada 100-an orang. Mengikuti rapat evaluasi triwulan III sekaligus membahas proyeksi 2018.

Eri dan rombongan sudah mulai terkesan saat mengunjungi lounge pemkab Banyuwangi. Kesannya makin mendalam ketika ternyata mereka disambut langsung oleh Bupati Abdullah Azwar Anas. Bertambah mendalam lagi kesan mereka karena Bupati Anas sendiri yang menjelaskan sekaligus menjawab pertanyaan seputar fasilitas di lounge pemkab. Kesannya makin bertumpuk-tumpuk ketika mereka melihat pendapa Sabha Swagata Blambangan. Rumah dinas Bupati Anas. Mereka berkesempatan masuk ke rumah ‘teletubbies’. Wisma tamu di bawah tanah berkelas hotel bintang 4.

Tempat gala dinner di halaman belakang (out door) yang menjadi lokasi gala dinner pun mereka komentari. ”Sebenarnya, rumah dinas bupati lainnya juga bisa di-setting seperti ini. Lebih modern. Tapi kenapa para bupati itu membiarkan jadul ya,” kata Wahyudi, Direktur Jawa Pos Radar Tulungagung. Saya jawab enteng saja: ”Itu soal visi”.

Kesan lainnya soal sambutan Bupati Anas. Mereka kagum. Karena Bupati Anas tidak hanya pidato. Tapi juga menampilkan Banyuwangi dalam angka-angka. Lewat dua LCD besar. ”Dengan begitu percaya. Bupati Anas menyampaikan data dan kita bisa melihatnya secara langsung. Tidak omdo alias omong doang,” celetuk salah seorang manajer keuangan yang terbiasa memelototi angka-angka.

Kesan rombongan makin menjadi-jadi ketika menginjakkan kaki di telatah Desa Adat Kemiren. Begitu berhenti di jalan depan Sanggar Genjah Arum mereka disambut barong cilik. Diarak masuk ke halaman sanggar milik Setiawan Subekti. Sampai di halaman mereka kembali dibuat berdecak. Menyaksikan si mbok-mbok memainkan musik gedhogan. Mereka tidak habis pikir, mbok-mbok yang berusia 70-an tahun itu masih kuat pegang alu dan menumbuk-numbukkannya ke dalam lesung. Sehingga menghasilkan alunan irama yang ritmik. Momen langka itu tidak mereka sia-siakan. Untuk berswafoto. Dengan gayanya sendiri-sendiri. Lalu mereka unggah di gawai pintarnya. Juga dikirim ke keluarga di rumah.

Rombongan lama sekali di Genjah Arum. Menyantap menu jajanan tradisional Oseng. Juga terus memburu Pak Iwan (Setiawan Subekti). Menanyakan banyak soal seputar kopi kepada Pak Iwan. Pakar kopi internasional. Bertanya sambil menyeruput beberapa cangkir kopi seduhan Pak Iwan, tentu saja. Setelah mendapat penjelasan tentang proses kopi yang benar, mereka yang semula tidak suka kopi berani nyicipi Kopai Osing. Termasuk mereka yang selama ini menghindari minum kopi karena alasan medis. Semua mencoba. Dan suka. Dan tidak kambuh sakitnya. Dan akhirnya semua bergembira.

Kepuasan mereka memuncak saat meriung di aula utama Sanggar Genjah Arum. Menikmati beberapa atraksi tari binaan Haidi Bing Slamet. Bukan hanya menyaksikan gemulai para penarinya. Tapi mereka mengerti kenapa mereka menari seperti itu. Lewat penjelasan MC budaya, Mr Aekanu. Saking asyiknya mereka tidak merasa hari sudah tengah malam. Karena esok paginya harus snorkeling di Bangsring Underwater, rombongan pun pamit kepada Pak Iwan. Juga Bupati Anas yang menyusul ke Genjah Arum.

”Sebenarnya tarian yang kami tonton semalam di tempat Pak Iwan juga ada di Jogja. Bahkan, lebih banyak mungkin. Tapi, belum dikemas sebaik di Banyuwangi. Meski sederhana kemasannya, tapi karena dilengkapi narasi jadi menarik tampilan keseluruhannya,” simpul Eri Suhariyadi yang berjanji akan datang lagi ke Banyuwangi.

Source link