Selain osteoarthritis, nyeri lutut bisa disebabkan karena keradangan pada tendon otot, cairan sendi maupun tulang di area lutut. Ada beragam cara untuk mengatasi nyeri lutut ini. Mulai dari pemberian obat, hingga diberikan program rehabilitasi medik. Program rehabilitasi medik pun juga tidak hanya satu macam. Ada yang diberikan modalitas pemanasan, modalitas dingin, stimulasi listrik maupun pemberian latihan penguatan.
Nah, kali ini ada terapi terbaru untuk mengatasi nyeri lutut di poli rehabilitasi medik RSI Siti Hajar Sidoarjo. Namanya SEMG Biofeedback. Terapi ini berprinsip pada teknik melatih orang untuk meningkatkan fungsi tubuhnya dengan menggunakan sinyal dari tubuh mereka sendiri. Pada SEMG Biofeedback, sinyal yang digunakan adalah sinyal listrik otot manusia.
Sebenarnya, banyak kondisi yang dapat dilatih menggunakan SEMG Biofeedback ini. Antara lain pasien dengan gangguan fungsi tangan, pasien yang lumpuh, pasien dengan keluhan gangguan berkemih, dan sebagainya. Tujuan dari terapi ini untuk meningkatkan kemampuan kontraksi otot yang lemah tersebut.
Pada kasus nyeri lutut, sering kali pasien cenderung enggan menggerakkan lututnya untuk menghindari munculnya rasa nyeri. Akibatnya, otot sekitar lutut jarang digerakkan dengan benar, bahkan pada beberapa pasien yang derajat nyerinya tinggi, otot sekitar lutut tersebut tidak dikontraksikan. Kondisi ini membuat otot-otot tersebut melemah, dan justru akan menimbulkan rasa nyeri yang tak kunjung hilang atau memburuk.
Untuk mengatasi nyeri tersebut, dibutuhkan terapi yang komprehensif. Salah satunya, dapat ditambahkan terapi biofeedback untuk membantu mengembalikan kekuatan otot di sekitar lutut. Pasien akan melihat dan mendengar apakah gerakan yang dilakukan sudah benar untuk bisa menimbulkan kontraksi yang benar.
Latihan ini diperlukan beberapa kali untuk membentuk kebiasaan pada pasien menggerakkan lutut dengan arah yang benar agar otot-otot yang mulai melemah bisa meningkat lagi kontraksinya. Pada terapi ini, otot sekitar lutut pasien akan ditempeli dengan elektroda yang akan menangkap sinyal listrik otot tersebut saat dikontraksikan. Kemudian, dari layar monitor, pasien akan dapat melihat seberapa besar kontraksi otot yang dilakukan.
Ada target nilai kontraksi normal yang harus dicapai pasien. Bila ternyata saat pasien mengontraksikan ototnya, dan nilai masih di bawah target, itu tandanya kontraksi otot pasien melemah. Dan kondisi tersebut perlu latihan intensif untuk penguatan otot. Latihan tersebut dapat dilakukan di rumah setiap hari sesuai instruksi yang diberikan dokter. Selanjutnya, akan dievaluasi dengan terapi biofeedback setiap minggunya sampai mencapai nilai target. Selama terapi biofeedback, sebaiknya pasien tetap menjalani terapi yang lain, termasuk pemberian obat-obatan. (*)