Omzet Rp 1 M Per Tahun, Gaji Telan Rp 20 Juta Per Bulan

TAK banyak desa yang mampu mengelola potensi di desanya dengan baik. Namun, di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, mampu menjadikan desa mereka sebagai sumber pendapatan yang tak sedikit. Per tahun, omzetnya bisa tembus Rp 1 miliar lebih.

Desa ini jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Diapit Gunung Welirang dan Penanggungan, perkampungan ini menyimpan keunikan tersendiri. Berada di ketinggian 1200 meter dari permukaan laut (mdpl), kampung ini mampu menggali potensinya dan menghasilkan pendapatan desa yang tak sedikit. Omzetnya bisa tembus hingga Rp 1 miliar lebih setiap tahun.

Kecerdikan inilah yang mampu mencuri perhatian tim penilai dari Provinsi Jatim. Baru-baru ini, desa tersebut mampu meraih juara harapan II tingkat Jatim atas kreasi dan inovasinya. Pendapatan desa yang sangat besar di desa ini, bersumber dari sejumlah sektor. Mulai dari pemanfaatan sumber air minum, penyewaan kandang ternak, hingga penjualan air bersih tangki. ’’Semua dikelola melalui BUMDes (Badan Usaha Milik Desa),’’ jelas Kades Ketapanrame Zainul Arifin.

Dia menceritakan, dari seluruh potensi pendapatan, sektor pengelolaan air minum memiliki konstribusi terbesar. Omzet per tahun, bisa tembus hingga Rp 900 juta. Meski memiliki potensi besar, namun proses pengelolaan tak mudah. Dibutuhkan keseriusan dalam mengolah manajemen. ’’Karena, tidak hanya melayani warga. Tapi, hotel dan vila juga kami layani,’’ jelasnya.

Dari seluruh pemasukan lima hotel dan vila inilah yang menyumbang pendapatan tersebar. Karena, BUMDes menerapkan meterisasi untuk mengontrol pemakaian air. ’’Sementara, warga bisa memakai tanpa batas dengan hanya membayar Rp 6 ribu per bulan,’’ tegas Arifin. Pembayaran ini tak diberlakukan untuk warga dengan ekonomi di bawah rata-rata.

Arifin menceritakan, untuk menjalankan bisnis ini, pegawai BUMDes harus rajin melakukan perawatan terhadap saluran air ke seluruh pelanggannya. Itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kebocoran pipa hingga mengakibatkan mandeknya pendistribusian air.

Potensi lain yang dikelola BUMDes adalah air tangki. Di sektor ini, per bulan bisa menyumpang pemasukan desa hingga Rp 6 juta. Namun, sejak tahun 2017, pendapatan dari sektor ini menurun lantaran persaingan yang kian ketat. Pelanggannya kini menurun drastis. Kades dua periode ini, menuturkan, pendapatan dari sektor air tangki juga nyaris sama dengan pengelolaan sampah di desanya. Akan tetapi, pengolahan sampah ini dilakukan agar kebiasaan warga membuang sampah ke sungai, bisa hilang.

Terakhir, BUMDes juga bergerak di bidang pemanfaatan lahan Tanah Kas Desa (TKD). Arifin menjelaskan, terhadap sektor ini ia memanfaatkan TKD untuk ’parkir’ hewan ternak. Berukuran 4 x 6 meter, desa membangun 25 kandang yang disewakan ke warganya dengan uang sewa Rp 100 ribu per tahun.

Banyaknya bisnis yang dikendalikan BUMDes ini, juga berbanding lurus dengan karyawan. Per bulan, untuk gaji para pegawainya, BUMDes mengeluarkan dana hingga Rp 20 juta lebih. Jumlah itu belum termasuk pengeluaran biaya operasional para pegawainya.

Camat Trawas Iwan Abdillah, menambahkan, pendapatan bersih di tahun 2016 lalu mencapai Rp 504 juta. Besarnya pemasukan inilah yang mampu mengantar desa ini menjadi juara harapan II tingkat Jatim. ’’Tentunya, saya berharap, bisa menjadi contoh bagi desa lain. Kembangkan BUMDes untuk kesejahteraan warga,’’ terangnya.

(mj/ron/ris/JPR)

Source link