APRESIASI: Perjuangan Lettu Suyoso diabadikan dengan dibangunnya monumen Suyoso di Taman Manula, Kota Probolinggo.
(Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Gugurnya Serma Suroyo, bukanlah akhir dari perjuangan mengusir penjajah dari tanah pendhalungan. Pada Oktober 1947, segala persiapan perlawanan mulai teratur. Rakyat yang merasakan betul kebengisan Belanda, terus memperkuat posisi tentara. Meskipun, ada sebagian dari mereka yang rela menjadi pengkhianat.

———————

Perlawanan dimulai dengan menggunakan taktik gerilya. Ketika Belanda lengah, pasukan kemudian melakukan serangan. Taktik gerilya yang dilakukan itu, salah satunya merupakan ide Lettu Suyoso. Pria kelahiran Probolinggo 16 Mei 1926 ini, menjadi salah satu pejuang yang juga tercatat namanya di tanah kelahirannya.

Suyoso mulai aktif berjuang sebagai tentara, yakni setelah proklamasi Kemerdekaan. Ia kemudian mendapat pangkat Lettu sebagai komandan sektor 502 SWK V atau sektor Kota Probolinggo. Ia juga berada di bawah komando Mayor Abdussjarif.

Ia mendapat tugas khusus untuk membuat kantong gerilya di Kota Probolinggo, yang saat itu dikuasai Belanda. Caranya, dengan mendirikan pemerintahan Republik Indonesia Darurat di daerah musuh. Mulai dari tingkat RT, RK, Desa, Asisten Wedana, Wdana, hingga Wali Kota. Siasat itu berhasil berkat dukungan rakyat dan ulama.

Ia mendirikan basis gerilya dengan membangun rumah bawah tanah, sebagai markas pejuang dan komando. Lokasi yang dipilih yakni Kebonsari Kulon dan Mangunharjo. Strategi ini memudahkan pejuang melawan penjajah. Sebab, serangan yang dilakukan sangat mendadak. Setelah itu pejuang menghilang. Dengan strategi itulah, kekuatan Belanda lambat laun mulai goyah.

Belanda sendiri kesulitan mengidentifikasi, mana pejuang dan mana rakyat. Sebab, rakyat turut membantu upaya penyamaran yang dilakukan pejuang. Serangan umum yang tercatat secara besar-besaran di antaranya, pada 30 November 1947 mulai pukul 23.30 hingga pukul 01.00; 25 Desember mulai pukul 01.30 hingga pukul 04.00; serta 31 Januari 1948 mulai pukul 01.30 hingga pukul 04.00.

Pada 1 Februari 1948, Belanda mengamuk. Seluruh penduduk di Kebonsari Kulon, Kebonsari Wetan (sebelah barat), Jrebeng Lor, Kanigaran diperintahkan keluar dari rumahnya dan terus ditembak. Sebagian lagi digiring ke sawah dan disuruh berbaris di tepi sungai. Kurang lebih 150 orang saat itu ditembaki tanpa ampun.

Salah satu dari mereka yang gugur adalah ulama yang juga imam Masjid Jami, KH. Abdul Hamid. Masa kelam Probolinggo yang disebut Massraaro (pembunuhan secara besar-besaran), menyisakan kegetiran yang mendalam. walau tidak sebesar peristiwa di Sulawesi Selatangerakan Kapten Westerling.

Serangan itu direspons balik oleh pejuang. Namun, di tengah perjuangan itu, seluruh prajurit diminta mematuhi persetujuan Renville pada 17 Januari 1948. Maka, pada tanggal 11 Februari 1948, diadakan perundingan tentang gencatan senjata. Jika saja saat itu pemerintah pusat tidak mengumumkan gencatan senjata, maka prajurit Lettu Suyoso hanya butuh waktu 2 bulan untuk merebut Kota Probolinggo.

Kepemimpinan Suyoso yang memiliki nama lahir Raden Soejoso Koesoemodipoero ini, mendapat simpati rakyat. Sebab, ia memerintah anak buahnya untuk tidak jumawa serta selalu dekat dengan rakyat. Pajak yang didapat dari rakyat untuk melaksanakan pemerintahan darurat itu, juga untuk membiayai perjuangan.

Suyoso sendiri gugur pada 6 Juli 1949 sekitar pukul 17.45. Saat itu, ia pulang seusai memimpin rapat di markas komando di Dusun Bengkingan, Desa Kalirejo, Kecamatan Dringu. Saat melintasi perbatasan Kalirejo-Wiroborang, rombongannya bertemu dengan polisi militer Belanda. Terjadi kontak senjata antara dua kubu ini. Bahkan hingga 7 Juli dini hari. Sayang, Lettu Suroyo gugur dalam peristiwa yang berakhir sekitar pukul 02.00 tersebut.

Saat itu, Belanda tidak tahu bahwa yang gugur adalah orang yang paking mereka takuti. Jenazah Suroyo barung diamankan pengawal dan rakyat, satu jam kemudian. Ia kemudian dikubur di dusun setempat. Belanda baru tahu yang gugur itu adalah Suroyo, sekitar pukul 03.30. Belanda kembali ke lokasi kontak senjata untuk mencari jenazah Suyoso. Namun sudah tidak ditemukan.

Suyoso yang meniti karir ketentaraan dengan mejadi anggota pasukan PETA berpangkat Shodanco itu, memang tidak dimakamkan di TMP. Hal itu bukan tanpa sebab. Ia berwasiat, agar jenazahnya dimakamkan di tempat ia meninggal. Alasannya, agar ia tetap dekat dengan rakyat dan orang-orang yang mendukung perjuangannya. Ia dianugerahi pangkat Kapten setelah gugur.

“Ini sebagai bukti, bahwa perjuangan tentara tidak lepas dari rakyat. Ini juga menegaskan, bahwa TNI berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. TNI kuat dan besar karena rakyat,” kata Komandan Kodim (Dandim) 0820 Letkol Kavaleri Depri Rio Saransi saat merefleksikan perjuangan Kapten Suyoso.

(br/rpd/mie/mie/JPR)

Source link