Pancaran Cinta Kasih untuk Mahkluk – Radar Kediri

KEDIRI KOTA – Puluhan umat Buddha dari Kediri raya berkumpul di Vihara Jayasaccako pada Selasa (29/5) untuk merayakan Waisak. Perayaan Waisak kali ini mengambil tema ‘Bertindak, berucap, berpikir baik untuk memperkokoh keutuhan bangsa.’

Hari Raya Waisak sendiri dikalangan umat Buddha sering disebut dengan hari raya Trisuci Waisak. Alasannya adalah pada hari Waisak terjadi tiga peristiwa penting. Yakni kelahiran Pangeran Sidhartha Gautama, tercapainya penerangan sempurna oleh Pertapa Gautama, dan mangkatnya sang Buddha Gautama.

KHIDMAT: Umat Buddha saat berdoa.
(ATTAR ANDIKA – JawaPos.com/RadarKediri)

Ada beberapa acara inti dalam perayaan Waisak kali ini. Pertama, berdoa menyambut detik-detik Waisak. Lalu ada prosesi bernama pradaksina. “Pradaksina adalah memutari damasala sebanyak tiga kali,” ujar Febby, salah seorang pengurus Vihara Jayasaccako.

Tidak hanya itu saja. Masih ada lagi ritual perenungan detik-detik Waisak. Yaitu dengan menyanyikan lagu malam suci Waisak. Setelah itu, umat Buddha melanjutkan dengan meditasi, atau samatha bawana). “Untuk acara terakhir ada pesan-pesan Waisak oleh Samanera Vimaladasso,” terangnya.

Doa yang dibaca saat saat menyambut detik-detik Waisak adalah membaca wisaka purnami puja katha. “Pesannya adalah untuk mengingat jasa Budha,” ujar Samanera Vimaladasso, yang memimpin doa tersebut.

Selain itu, ada ritual permohonan lima sila untuk umat. Yakni pembacaan Paritta Buddha Nusati, Dhamma Nusati, Sangha Nusati, dan Saccakiriagatha.

Menurutnya, mengelilingi damasala sebanyak tiga kali ada filosofi  yang mengikuti. Yaitu, tiga kali menghormati Buddha, Dama, dan Sangha. Sembari mengitari damasala, umat Buddha membawa persembahan. Berupa bunga, dupa, dan lilin. Mereka melakukan itu sambil menjalani perenungan.

Menurut Samanera ritual meditasi ini untuk merenungkan jasa-jasa guru agung sang Buddha. Ia menegaskan bahwa sebagai umat Buddha harus memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk. “Meditasi itu untuk introspeksi juga, Mas,” paparnya.

Pesan yang disampaikan Samanera saat detik-detik Waisak sangatlah relevan dengan keadaan Indonesia sekarang. Menurutnya sebagai umat dan warga negara kita harus memperkuat persatuan sebagai bangsa. Pentingnya menjaga tindakan agar tidak semaunya sendiri, berpikir dan berucap yang baik. “Mengembangkan cinta kasih, menjalin persaudaraan,” ujarnya.  

(rk/die/die/JPR)

Source link