Panwaslu Menebar Mata-Mata – Radar Kediri

KEDIRI KOTA – Panwaslu benar-benar tak ingin terjadi aksi serangan fajar saat Hari H Pilwali, 27 Juni, nanti. Salah satu upaya mereka adalah menyebar banyak informan di banyak tempat. Agar bisa menjerat oknum yang melakukan aksi bagi-bagi uang untuk mengarahkan pemilih.

Sebab, aksi serangan fajar seperti itu jamak terjadi di detik-detik terakhir. Panwaslu pun dengan tegas mengancam bakal menindak oknum tim sukses maupun warga yang terlibat dalam politik uang untuk memengaruhi saat pencoblosan. Ancaman pidana akan diarahkan baik kepada pemberi atau penerima.

“Kami tegaskan pemberi dan penerima uang dalam serangan fajar dengan memberi uang untuk memilih salah satu paslon (Pasangan Calon, Red) akan kita pidanakan,” ungkap Yoni Bambang Suryadi, ketua Panwaslu Kota Kediri.

Dalam kesempatan wawancara dengan wartawan koran ini Yoni menerangkan pihaknya akan mengantisipasi serangan fajar dengan melakukan politik uang tersebut. hal itu dilakukan karena setiap kali pemilu dan di manapun dilakukan pemilu tersebut indikasi politik uang untuk mempengaruhi pemilih ini nyata terjadi.

Menurut Yoni, pihaknya sudah menyusun cara untuk mengantisipasi praktik politik uang pada hari H. Panwaslu akan menerjunkan personil. Mereka bertugas untuk memelototi setiap kegiatan tim sukses. Termasuk mengamati kegiatan paslonnya sendiri.

Terlebih di masa tenang yang diprediksikan rawan bom-boman uang. Agar pemilih lebih condong ke salah satu paslon yang memberikan uang. “Kami akan lakukan pengawasan secara terang-terangan hingga lakukan penyamaran,” terang Yoni.

Penyamaran ini penting untuk melihat langsung keadaan di masyarakat. Agar praktik serangan fajar segera terdeteksi. Pihaknya juga telah menyiapkan informan-informan dari para warga di setiap tempat. Agar ikut mengawasi praktik curang tersebut. Jika ditemukan indikasi politik uang nantinya warga bisa melapor. Yang akan direspon oleh panwaslu. “Kalau ditemukan akan langsung kami tindak dan beri sanksi. Kami tak ragu untuk memidanakan,” ancamnya.

Petugas Pengawas Lapangan juga siaga 24 jam mengawasi pergerakan serangan fajar tersebut. Hal ini agar pilwali maupun Pemilihan Gubernur (Pilgub) bisa berjalan dengan baik. Demokrasi tidak dicurangi dengan politik uang. Terlebih, Yoni mengkhawatirkan politik uang atau serangan fajar ini terjadi di detik-detik terakhir pencoblosan nanti. “Saya kira sekarang serangan sudah tidak hanya fajar saja, saat padang (terang, Red) pun mereka akan melakukannya jika ada kesempatan,” gurau Yoni.

Agar tidak terjadi politik uang terjadi di masyarakat jelang pencoblosan, Yoni menerangkan sebelum hari tenang akan mengumpulkan paslon dan timsesnya. Mereka akan diberi arahan dan imbauan. Supaya mematuhi semua aturan yang ada.

Namun saat ditanya hingga saat ini apakah sudah ada ditemukan indikasi serangan fajar? Yoni menerangkan bahwa pihaknya belum bisa menyatakan dan memastikannya. Namun indikasi itu sudah ada dan masih dalam pantauannya. Dia berkelakar, kini ibarat maling juga sudah lebih pintar daripada si juragannya atau si pemilik rumah. “Kami tidak ingin kecolongan. Terus kami pantau gerak-gerik mereka,” ungkapnya.

Jika ditemukan indikasi serangan fajar itu terstruktur, masif, dan sistematis pihaknya tidak segan-segan mencoret pencalonan paslon yang terbukti melakukan politik uang. “Menerima atau memberi uang Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu pun nanti akan kami pidanakan,” tegas Yoni.  

(rk/fiz/die/JPR)

Source link