Panwaslu Tegur Paslon yang Kampanye di Masjid – Radar Kediri

Ketua Panwaslu Kabupaten Nganjuk Abd Syukur Junaidi mengakan, pihaknya sudah memberi teguran lisan pada tiga paslon. Yakni, pasangan Novi Rahman Hidhayat-Marhaen Djumadi, Siti Nurhayati-Bimantoro Wiyono dan Desy Natalia Widya-Ainul Yakin.

Mereka ditegur karena sempat memberikan sambutan yang berbau kampanye setelah salat tarawih di masjid. “Itu salah satu larangan kampanye di bulan Ramadan,” kata Syukur kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Lebih jauh Syukur mengatakan, ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan paslon bupati dan wabup. Yakni, kampanye usai salat tarawih. Terutama salat yang dilakukan di masjid atau musala. “Karena kalau sudah di masjid, itu untuk tempat umum,” lanjutnya.

Karenanya, paslon hanya boleh salat tarawih bersama warga tanpa harus memberikan sambutan atau kampanye. Selain itu, mereka masih diperbolehkan memberikan kampanye setelah salat tarawih. Asalkan, salat digelar di kediaman tuan rumah yang dijadikan tempat berkampanye. “Itu yang diperbolehkan,” ucap pria asal Sampang, Madura ini.

Selain tarawih, Syukur mengungkapkan, panwaslu juga melarang paslon memberikan bingkisan yang nilainya lebih dari Rp 25 ribu kepada warga. Larangan itu diatur di Peraturan KPU (PKPU) No 4/2017 tentang Kampanye.

Sementara untuk aturan buka puasa bersama, Syukur mengungkapkan, kegiatan itu hanya boleh digelar di kediaman warga yang ditunjuk. Di sana paslon boleh berkampanye. “Tapi tetap harus dilaporkan ke panwaslu. Di tempat ibadah yang tidak boleh,” kata pria yang tinggal di Desa Tembarak, Kecamatan Kertosono ini.

Di luar itu, paslon juga dilarang membagikan takjil dengan atribut kampanye. Seperti spanduk, kaos maupun striker. Jika paslon tetap ingin membagikan takjil, tidak boleh diberi atribut calon.

Untuk mengawasi masa kampanye selama Ramadan, Syukur mengatakan, pihaknya sudah menugaskan panitia pengawas kecamatan (panwascam). Jika ada temuan dugaan pelanggaran, panwascam akan melaporkannya ke panwaslu.

(rk/baz/die/JPR)

Source link