Kota seperti Bojonegoro memang sedang tumbuh secara bertahap. Sehingga iklim berbisnisnya pun ikut berkembang dengan baik.

Beberapa pelaku bisnis bermunculan dari kalangan pemuda yang sangat kreatif. Ide-ide mereka unik dan masih belum banyak yang mengembangkan bisnis unik tersebut di Bojonegoro.

Salah satu ide bisnis yang unik ialah party planner. Bisnis yang bergerak di bidang jasa mendekorasi berbagai bentuk pesta skala kecil hingga menengah.

Jawa Pos Radar Bojonegoro berkesempatan menemui dan berbincang-bincang dengan para pemuda yang mengambil ceruk bisnis tersebut.

Para pemuda itu menjalankan bisnis party planner bertiga yang notabene memang teman akrab sejak duduk di bangku SMP. Diantaranya Ratih Kumala Sari, Riska Ardelia, dan Fadila Avionela.

Ide party planner itu muncul setelah Riska Ardelia dan Fadila Avionela yang sempat kuliah di Semarang sudah menggeluti bisnis tersebut.

Sehingga, saat melihat Bojonegoro yang memang belum ada jasa party planner, mereka pun memulainya sejak Februari 2017 silam.

Riska, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa dulunya di Semarang, dia dan Fadila jalan sendiri-sendiri.

Tetapi ketika sudah pulang ke Bojonegoro, mereka bergabung dan mengajak satu kawannya yakni Ratih. Awal merintis hingga sekarang, Riska dan kawan-kawannya mengandalkan Instagram.

Ditunjang dengan titip kartu nama di beberapa hotel dan kafe di Bojonegoro. Bahkan klien pertamanya justru dari Tuban.

“Klien pertama itu tahunya dari medsos, berarti memang di Tuban belum ada jasa seperti kami, kesempatan lebih besar memang bisnis ini,” tuturnya. 

Gadis berusia 23 tahun itu pun menyampaikan rata-rata klien didominasi oleh anak-anak muda. Bisa dibilang memang tren membuat party kecil-kecilan bersama pacar, keluarga, atau teman kantor.

“Paling banyak anak-anak SMA yang pengin dibuatkan couple dinner di kafe,” ujarnya. Menurut dia, anak-anak SMA zaman sekarang memang sudah menjadi kebutuhan tersendiri membuat acara seperti itu dengan pacarnya.

“Anak SMA sekarang butuh foto-foto untuk diunggah di media sosial,” kata gadis asal Desa Mojodeso Kecamatan Kapas itu.

Adapun jenis party lainnya seperti ulang tahun, hari jadi pernikahan, pesta perpisahan, dan sebagainya.

Saking banyaknya peminat dan minimnya kompetitor di Bojonegoro, Riska dan kawan-kawannya bisa mendapat 10-20 klien per bulannya.

Banyaknya klien tersebut tentunya harus pintar-pintar mengatur waktu, karena memang Riska dan kawan-kawannya punya profesi lain.

“Kami atur sedemikian rupa waktunya, tapi alhamdulillah sebagian besar klien acaranya saat akhir pekan, kalau pun hari kerja pasti sore atau malam hari,” katanya.

Sementara itu, Ratih pun ikut menjelaskan bahwa suka duka menjalankan bisnis party planner sangat beragam. Ada beberapa klien seperti anak SMA itu yang bolak-balik pakai jasa mereka.

“Uniknya itu ada salah satu klien masih SMA yang pakai jasa kami dari pacarnya yang lama sampai putus dan saat punya pacar baru pakai jasa kami lagi,” terangnya.

Bahkan mendapat job dadakan juga sering. Jadi klien memesan pagi hari untuk acara nanti sore atau malamnya. Adapun sekali waktu tiga job dalam sehari, jadi sempat kelabakan mengurusnya.

Lalu ada pengalaman ketika salah satu perusahaan perbankan di Bojonegoro mengadakan pesta, mereka mengerjakannya selama 12 jam. “Banyak pengalaman kami lalui bersama dan seru sih menjalaninya,” ujarnya. 

Selama menjalaninya, mereka juga terus belajar dan update dengan dekorasi-dekorasi masa kini.

“Kami semua otodidak, seperti membuat balloon gate atau giant paper awalnya kita belum paham cara buatnya, tapi karena yakin bisa, akhirnya kami pun lancar melakukannya,” tutur gadis asal Banjarejo itu.

(bj/gas/bet/nas/ch/JPR)

Source link