Peluang bisnis properti 2018 – Radar Solo

Beberapa pelaku usaha memprediksi bisnis properti akan mengalami booming pada 2018. Terbukti pasar properti mulai menanjak, karena didorong oleh pertumbuhan ekonomi nasional. Terlebih, kondisi Indonesia makin stabil, dengan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini sekitar 5,3 persen. Di sisi lain, pelaku pasar properti di eks karesidenan Surakarta yang mulai menyikapi positif, pasca diberlakukannya tax amnesty atau pengampunan pajak.

Office Manager LJ Hooker Solo, Kustanti Mutiarasari mengatakan, daya beli konsumen terhadap properti sebenarnya masih tetap ada. Hanya saja, banyak yang terpending karena pelaporan tax amnesty. Tahun ini lebih menguntungkan lagi, karena sejumlah perbankan mulai support dalam menawarkan suku bunga yang bersaing.

“Kami selaku agent property justru lebih semangat dan tetap positive thinking. Dalam arti tetap berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang properti. Apalagi saat ini kebutuhan konsumen terhadap properti cukup beragam. Terutama untuk pengembangan usaha berupa gudang –baik sewa maupun beli,” jelas Happy –sapaan Kustanti Mutiarasari.

Diakui Happy, saat ini bisnis properti yang cukup menjanjikan di eks Karesidenan Surakarta berupa tanah untuk gudang. Terutama untuk pengembangan sektor usaha bagi investor dari luar kota. Sedang untuk pasar hunian masih stagnan atau belum menunjukkan lonjakan signifikan. Termasuk konsep rumah dan toko (ruko) yang pasarnya belum menggeliat.

“Khusus ruko pasarnya memang tetap masih ada, selama lahannya bagi developer untuk pengembangan ruko selama harganya terjangkau. Tapi tak segencar seperti tahun lalu. Saat ini, yang cukup banyak di lirik pengembang yaitu Solo bagian barat,” terangnya.

Sementara itu, terkait konsep hunian berupa apartemen yang mulai marak dikembangkan di Jawa Tengah. Happy menilai, semua tergantung mindset konsumen. Karena masih ada konsumen yang tertarik dengan model landed house atau rumah tapak. Meski tak dimungkiri, ada juga konsumen dari Solo yang tertarik berinvestasi apartemen di kota besar, seperti Jakarta dan Bali.

“Bagi sebagian konsumen mengenggap apartemen bukanlah kebutuhan primer atau utama. Tapi biasanya lebih banyak yang menyesuaikan untuk kebutuhan tertentu. Kecuali apartemen yang ditawarkan benar-benar punya fasilitas menarik. Dan konsumen sedang butuh prestise untuk berinvestasi apartemen,” ungkap Happy.

(rs/bay/bay/JPR)