Pemilih Pemula – Radar Semarang

Ketua panitia, Yanto Mulyanto mengatakan, sosialisasi diperlukan untuk membekali siswa sebagai pemilih pemula. Karena itu, mereka diharapkan dapat ikut melakukan pengawasan terhadap pemilihan tersebut. “Ini sekaligus memberikan pembelajaran bagaimana proses demokrasi yang sebenarnya serta turut menciptakan suasana yang kondusif,” ujar dia.

Ketua Panwaskab Demak, Khoirul Saleh menambahkan, peran pelajar sangat penting dalam menentukan siapa pemimpin 5 tahun kedepan, baik dalam pilgub maupun pileg serta pilpres nanti. “Kita berharap, para siswa ini dapat menjadi pengawas pemilu partisipatif atau garda demokrasi sehingga dapat mengawal terlaksananya pemilu,” katanya.

Menurutnya, para siswa tersebut dapat bersinergi dengan panwas untuk menyampaikan laporan dugaan pelanggaran dalam kampanye. Dr Saekhan Muchit mengatakan, generasi muda, utamanya pelajar dapat dlihat sejauhmana mereka bersedia atau sanggup mendukung proses demokrasi (pilgub) mendatang.”Manusia adalah makhluk politik (zoon politicon). Disinilah manusia punya karakter untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan,” katanya.

Di Indonesia, kata dia, politik menjadi panglima. Sebab, semua hal melalui jalur politik, termasuk jika mau menjadi gubernur, bupati, dan jabatan politik lainnya. Karena itu, pelajar mau tidak mau dekat dengan politik karena semua hal berdekatan dengan proses politik. “Dalam kitab Al Ahkam Al Sultoniyah karya Imam Al Mawardi disebutkan bahwa, memilih pemimpin itu wajib hukumnya. Diantaranya melalui proses pemilihan umum,” katanya.

Dia melihat, ada keanehan dalam pemilu 2004 hingga 2014 lalu. Dimana pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya lebih banyak dibandingkan masa Orde Baru dan Orde Lama. Padahal, kata dia, sumber daya saat itu masih rendah namun partisipasi pemilih cukup tinggi. “Kita bertanya tanya mengapa dalam pemilu sekarang justru banyak yang golput atau tidak memilih. Karena itu perlu kesadaran bersama dalam mewujudkan pemilu yang berkualitas,”ujar dia. 

(sm/hib/bas/JPR)