Pencipta Lagu Sukoharjo Tresnaku Merasa Dirugikan – Radar Solo

SUKOHARJO – Bimo Kokor Wijanarko pencipta lagu Sukoharjo Tresnaku dan Sukoharjo Tanah Kelahiran merasa dirugikan lantaran penyelenggara acara inbox tidak meminta izin saat menggunakan lagunya. Bahkan, nama pencipta lagu tersebut juga tidak ditulis saat acara berlangsung di televisi.

Kokor mengatakan, lagunya tersebut dibuat untuk opening acara tersebut selama dua hari acara itu berlangsung Sabtu – Minggu (9-10/12). Namun, selama disiarkan tersebut tidak ada dari pihak panitia yang medatanginya untuk meminta izin lagu Sukoharjo Tresnaku dan Sukoharjo Tanah Kelahiran untuk digunakan.

”Disatu sisi saya berterimakasih atas penghargaan ditayangkan lagu saya. Tapi disisi yang lain perlu ada kritik untuk penyelenggaraan tersebut lantaran tidak mencantumkan nama penciptanya,” papar dia.

Beberapa hal yang dia soroti saat acara tersebut berlangsung musik dari lagunya itu dipotong – potong. Dengan dipotongnya syair lagu ini, masyarakat jadi tidak bisa menerima pesan yang dimaksudkan dari lagu tersebut dengan utuh. Padahal, dua lagunya tersebut bercerita tentang Sukoharjo.

Seperti lagu Sukoharjo Tresnaku lebih menceritakan tentang keindahan alam Sukoharjo. Seperti sawah yang subur, pohon besar yang masih asri bertahan di desa. Kemudian, untuk lagu Sukoharjo Tanah Kelahiran lebih bercerita tentang produk unggulan di 12 Kecamatan Sukoharjo.

”Sayang sebenarnya, kalau bisa lagu itu malah ditampilkan utuh agar masyarakat Sukoharjo sendiri tahu tentang keindahan alam dan bisa makin cinta dengan Sukoharjo Makmur ini,” terang Kokor kemarin.

Dia bercerita lagu itu diciptakan tahun 2013 lalu saat dirinya pindah dari Salatiga ke Sukoharjo. Kokor menegaskan, dirinya tidak menuntut apa – apa dari kejadian ini. Namun, dia ingin kejadian ini dibuat pengalaman semua seniman di Sukoharjo. Sebab, membuat sebuah karya tidak mudah. Membutuhkan inspirasi, kesabaran, dan telaten dalam membuatnya. ”Maka, pencipta lagu itu harus dihargai,” papar dia. (yan)

(rs/yan/per/JPR)