Dijelaskan Suwiknya, pembatasan untuk mengantisipasi membludaknya pendaki yang hendak merayakan pergantian tahun. Karena jalur pendakian Merapi terbilang pendek, sempit, dan diapit jurang. Jika terlalu banyak pendaki bakal menanggung beban. Apalagi hujan yang masih sering mengguyur, sehingga jalur pendakian dikhawatirkan tergerus dan licin. Jalur juga rawan longsor karena tingginya intensitas hujan di kawasan Merapi. “Curah hujan masih cukup tinggi, membuat jalur pendakian rawan longsor,” tegasnya.

Menurut Suwiknya, aturan pendakian untuk agenda tahun baru nanti masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Yaitu harus membawa peralatan yang memadai, kondisi fisik yang prima, serta larangan untuk naik sampai puncak Merapi. “Pendakian juga hanya dibolehkan sampai kawasan Pasar Bubrah saja,” terangnya.

Guna memudahkan pemantauan, petugas bakal membuat pos-pos penjagaan di sepanjang jalur pendakian. Penjagaan juga melibatkan petugas dari berbagai elemen. Seperti relawan, tim SAR, kepolisian serta jajaran terkait lainnya. “Jika jumlah pendaki Merapi melebihi batas yang telah ditentukan, maka pendaki akan diarahkan ke Gunung Merbabu yang jarak pos pendakiannya tak jauh dari Gunung Merapi,” jelasnya.

Ditemui terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali, Bambang Sinungharjo menambahkan, para pendaki juga tak diizinkan membawa senjata tajam. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari hal- hal yang tak diinginkan.

Selain itu Bambang juga menerapkan larangan untuk melakukan pesta kembang api dan membuat api unggun di puncak salah satu gunung teraktif di dunia itu. Tujuannya, mengantisipasi terjadinya bahaya kebakaran. “Kami berharap para pendaki mematuhi aturan dan imbauan ini,” ungkap Bambang.

(rs/wid/bay/JPR)