Penderita DBD – Radar Bromo

ILUSTRASI
(Dok. JawaPos.com)

BUGULKIDUL – Memasuki musim hujan, demam berdarah dengue (DBD) mengancam. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pasuruan pun mengimbau seluruh warga mewaspadai DBD. Bila menemukan kasus DBD, warga diimbau segera melapor.

Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Pasuruan dr. Shierly Marlena mengatakan, sepanjang 2017, Dinkes menemukan 130 penderita DBD. Jumlah itu menurun dibandingkan 2016 lalu yang mencapai 325 kasus.

Penurunan jumlah penderita DBD itu disebabkan oleh sejumlah faktor. Di antaranya, kesadaran masyarakat pada hidup bersih dan sehat yang disebutkan semakin meningkat.

Ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan bebas jentik di Kota Pasuruan dari 83 persen menjadi 92 persen. “Alhamdulillah, jumlah penderita DBD mengalami penurunan. Namun, saya berharap tahun ini trennya terus menurun. Salah satunya dimulai dari lingkungan yang bersih,” katanya.

Shierly mengungkapkan, DBD disebabkan oleh jentik nyamuk aedes aegypti. Tanda-tanda penderitanya bisa dikenali dengan gejala panas tinggi antara 3-7 hari, ada bintik-bintik di kulit, kadang ada mimisan dan sampai menyebabkan pendarahan dari hidung dan gusi.

Jika sampai terlambat penanganannya, bisa jatuh dalam stadium shock (dengue strong shock). Hal ini dapat menyebabkan kematian bagi penderitanya sebab adanya kebocoran pada plasma atau pembuluh darah.

Untuk mengantispasi penyebaran DBD, pihaknya menyediakan juru pemantau jentik (jumantik) dari anggota keluarga di setiap rumah. Sehingga, jika ada keluarganya yang terkena DBD dapat langsung melaporkan ke Dinkes.

“Selain itu, dengan metode mengganti, menutup, dan membuang (3M). Sebab, jentik nyamuk berkembang di udara yang lembap dan banyak genangan air yang tidak mengalir, namun tidak bersinggungan dengan tanah,” terang Shierly.

(br/riz/fun/fun/JPR)

Source link