Pendidikan Mampu Turunkan Angka Pernikahan Dini  – Radar Bojonegoro

Namun, angka tersebut menunjukkan tren penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. ”Dibanding tahun lalu ada sedikit penurunan,” ujarnya ditemui di ruang kerjanya kemarin.

Dia menuturkan, pada 2015 kasus diska mencapai 206 dan pada 2017 mencapai 173 kasus. Tahun ini turun menjadi 128 kasus. ”Sangat jelas tren penurunannya,” jelasnya.

Sholikin menjelaskan, dispensasi nikah diberikan kepada orang yang ingin menikah namun usianya masih belum cukup. Untuk perempuan, usianya di bawah 16 tahun dan untuk laki-laki usianya di bawah 18 tahun.

Sehingga, mereka harus meminta diska ke PA jika ingin melangsungkan pernikahan. Masalah diska tersebut memang susah dihilangkan. Namun, dengan turunnya angka diska, menunjukkan bahwa ada berbagai keberhasilan.

Terutama dalam membentuk pola pikir masyarakat. Mantan Panitera PA Tuban itu melanjutkan, ada berbagai hal yang menyebabkan kasus diska masih tinggi.

Diantaranya adalah tingkat pendidikan yang rendah. Jika anak tidak melanjutkan sekolah, maka mereka akan menikah. ”Solusinya adalah dengan meningkatkan pendidikan.

Jika mereka melanjutkan sekolah, maka mereka akan sibuk dengan sekolah. Tidak memikirkan menikah,” jelasnya.Dia menambahkan, beberapa kasus diska terjadi karena hamil duluan.

Hal tersebut menjadi masalah yang sulit diatasi. Sebab, itu adalah masalah moral dan kebebasan bergaul. ”Pencegahannya adalah dengan membatasi pergaulan anak agar tidak terlampau bebas,” jelasnya.

Dia menambahkan, menurunnya angka diska tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin sejahtera. Itu dibuktikan dengan semakin banyaknya anak yang melanjutkan sekolah.

”Mereka melanjutkan sekolah karena mampu. Jadi, indikatornya adalah kesejahteraan mengurangi angka pernikahan dini,” jelasnya.

(bj/zim/nas/bet/dka/JPR)

Source link