Penelitian Selama 1,5 Bulan, Rancang Ekowisata Mangrove – Radar Kudus

PELAJAR bernama Indra Adheka Antoni, Seki Abdurrocman, dan Muhammad Sony Alkafa ini patut diacungi jempol. Mereka mencoba mengembangkan potensi yang dimiliki sekolah. Salah satunya mangrove di salah satu sudut SMKN 1 Jepara.

Ketiga pelajar tersebut mengangkat potensi mangrove dalam penelitian dan disusun secara rapi dalam karya ilmiah berjudul Potensi Ekosistem Mangrove di SMKN 1 Jepara sebagai Alternatif Objek Ekowisata di Kabupaten Jepara.

Salah satu pelajar, Indra mengatakan, saat ini dia dan dua temannya duduk di kelas XII jurusan NKPI 2. Tahun ini menjadi pertama kalinya mereka ambil bagian dalam LKII. ”Kami satu kelas, lalu kami ada keinginan untuk ikut dalam LKII tahun ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Mengenai ide penelitian itu sendiri, Indra menyampaikan, bermula dari pengamatan yang dilakukan di sekolah. ”SMKN 1 Jepara punya mangrove yang belum maksimal pengelolaannya. Karena itu kami ingin mengangkat mangrove di sekolah kami untuk dijadikan ekowisata. Kami menilai ini memiliki peluang besar karena Jepara belum ada wisata mangrove,” ungkapnya.

Indra melanjutkan, di sekolahnya lahan mangrove seluas dua hektare. Mangrove yang ada berusia sekitar lima tahun dan merupakan hasil penanaman yang bekerjasama dengan Oisca pada 2012 lalu. ”Selama ini banyak pelajar TK yang datang ke sekolah kami untuk melihat budidaya ikan. Jadi kami memiliki ide untuk sekaligus mengajak mereka melihat mangrove di sekolah kami jika nantinya sudah tertata,” urainya.

Pelajar lainnya Sony menjelaskan, untuk mewujudkan mangrove sebagai ekowisata, mereka terlebih dahulu melakukan penelitian. Mulai dari potensinya, sarana prasarana serta izin dari pihak sekolah. ”Sekolah mendukung, akses ke lokasi kami juga dekat dengan lokasi-lokasi wisata di Jepara sehingga sangat berpotensi untuk menjadi alternatif ekowisata Jepara,” tuturnya.

Untuk menuntaskan penelitian itu, lanjutnya, mereka menghabiskan waktu sekitar 1,5 bulan. Mulai dari melakukan penelitian hingga penyusunan naskah.

”Dalam prosesnya kami didampingi oleh guru pembimbing yakni Bu Arif Noor Hayati dan Bambang Hadi Sutrisno,” ujarnya.

Dalam proses itu, Sony menyatakan, banyak tantangan yang dihadapinya. Salah satunya terkait metode penelitian yang diterapkan dalam proses penelitian tersebut. ”Di penelitian ini kami tak hanya menggali data dari pihak sekolah tapi kami juga mengumpulkan data dari luar sekolah. Seperti wawancara dengan masyarakat luar terkait dukungan jika ada ekowisata mangrove serta dengan organisasi luar yang peduli magrove seperti Jepara Menanam dan Oisca Jepara,” tuturnya.

Ditanya mengenai apa yang membuat mereka unggul dibandingkan peserta lain, dia menyatakan karena apa yang diteliti berbeda dan riil. ”Mangrove memang sudah ada tinggal pengembangannya, kalau peserta lain rata-rata meneliti tentang pantai,” ujarnya.

Mengenai proses lomba sendiri, pelajar lainnya Seki menuturkan, mereka melalui tahap seleksi karya ilmiah serta tahap presentasi. ”Kami berhasil meyakinkan juri dan berhasil meraih juara II,” katanya.

Usai dinobatkan sebagai juara II, Seki menambahkan, sebagai tindak lanjut dari penelitian itu mereka akan mencari donatur agar lahan mangrove bisa dibangun dengan lebih menarik. ”Rencananya ingin kami buat jalan khusus dan menempatkan gazebo-gazebo di tengah mangrove,” imbuhnya.

(ks/zen/top/JPR)