Penerima Program Home Care RSUD Gambiran – Radar Kediri

Tidak mudah mencari tempat tinggal Mayasari, siswi kelas XI SMP yang terjaring razia satpol PP saat mengamen di perempatan Alun-Alun Kota Kediri. Jawa Pos Radar Kediri harus masuk ke gang-gang meski lokasi sebenarnya tidak terlalu jauh dari Jl Brigjen Katamso, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota.

Ketika sampai di salah satu kos-kosan, wartawan koran ini kemudian mencari kamar mana yang dihuni keluarga Mayasari. Ternyata ada di kamar kedua dari pintu masuk. Di sana ada seorang bapak yang tiduran tepat di depan pintu kamar.

“Mayasari-nya sedang sekolah,” terang laki-laki tersebut sambil berusaha bangun dan duduk.

Sayang karena terkena stroke pada badannya sisi kanan, pria yang diketahui bernama Marjuki tersebut sulit bergerak. Anak sulungnya, Puji Diana, berusaha membantunya bangun. Karena tidak kuat mengangkat tubuh bapaknya, Marjuki sedikit menyeret badannya dalam posisi badan tidur untuk bisa bergeser.

“Alhamdulillah ini sudah lumayan bisa bergerak, sebelumnya malah tidak bisa sama sekali,” ujar pria 78 tahun tersebut pasca mendapatkan perawatan dari program Home Care RSUD Gambiran.

Tidak jauh dari keduanya, seorang perempuan terlihat duduk tenang sambil mengurut kakinya. Meski berada dekat suaminya, perempuan bernama Umi Kalsum ini tidak membantu sang suami bangun. Sebab dirinya sendiri juga kesulitan bergerak. “Sudah setahun ini saya tidak bisa beraktivitas karena kecelakaan,” ungkapnya.

Tampak perabotan rumah tangga bertumpuk di setiap sisi kamar. Cat kamar yang seharusnya putih tampak abu-abu, terutama di sisi pojok kanan. Di sanalah teronggok kompor berikut panci dan alat-alat memasak.

Sedangkan di sisi lain, ada satu unit tempat tidur berikut kasur tambahan yang tidak kalah lusuh. Sedangkan tepat di belakang pintu kamar, tampak beberapa baju bergantungan di sebuah tali yang sengaja di pasang. Meski sekilas terlihat berantakan, di sanalah satu keluarga bertahan hidup dari panas dan hujan. Makanya tidak ada keluhan yang disampaikan Marjuki meski kondisinya pas-pasan. “Saya sebenarnya tinggal Kalimantan Barat (Kalbar). Berada di kota ini tahun 2006 lalu,” kata Marjuki mulai bercerita.

Ketika muda, bapak dua anak ini tinggal di pemukiman Suku Madura di Kalbar meski dirinya sebenarnya adalah orang Jawa. Namun di awal-awal konflik Madura-Dayak, desa tempat tinggalnya rata dengan tanah karena dibakar. Keluarganya pun kocar-kacir. “Saat itu saya selamat karena sedang menyadap karet di hutan,” kenangnya.

Ketika pulang yang pertama dicarinya adalah anak istrinya. Informasi yang didapatkannya bahwa semua warga selamat berkumpul di markas Kodim. Maka dirinya pun menyusul ke sana. “Ternyata sudah pada dikirim ke Madura,” urainya sambil menerawang.

Marjuki kemudian menyusul ke pulau Jawa. Namun sayang, ia tak bertemu anak istrinya. Hingga akhirnya dirinya bertemu Puji Diana ketika di Pasar Turi, Surabaya. Sejak saat itulah, mereka hidup berpindah-pindah. “Mbambung ke mana-mana, mau pulang ke Kalimantan masih takut,” ucapnya.

Hingga pada 2006, Marjuki bersama keluarganya terdampar di Alun-Alun Kota Kediri. Pekerjaan serabutan pun dilakoninya. Dalam kondisi terbatas, anak keduanya, Mayasari ingin sekolah. Makanya Marjuki beralih status menjadi warga Kampungdalem. “Saya turuti karena keinginannya besar,” katanya.

Namun pada 2013 Marjuki terkena stroke. Tangan kanan maupun kaki kanannya tidak bisa digerakkan. Dia tak bisa lagi bekerja. Umi pun kemudian turun ke jalan memenuhi kebutuhan keluarga. Nahas, 2015 lalu perempuan berambut keriting ini mengalami kecelakaan. “Saya pun jadinya tidak bisa membantu mencari uang lagi,” ujar perempuan asal Kalbar tersebut.

Puji Diana juga tidak bisa diandalkan. Pasalnya, meski sehat fisiknya, gadis 26 tahun itu diperkirakan psikologinya terganggu. Itu karena trauma dengan peristiwa yang dihadapinya ketika berada di Kalbar.

Makanya tidak ada pilihan lain bagi Maya untuk tidak turun ke jalan. Meski mendapatkan berbagai bantuan dari pemerintah, seperti beras sejahtera (rastra), program keluarga harapan (PKH) tidak bisa cair setiap bulan. Siswi kelas IX SMPN 2 Kediri ini pun terpaksa mengamen di sore hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Sampai saat ini dialah yang menjadi tulang punggung kami,” terang Marjuki sambil terisak.

Tangisnya pecah ketika ingat bahwa anak perempuannya yang seharusnya fokus belajar harus menanggung beban keluarga. Meski sering turun ke jalan menjadi pengamen, Maya tidak pernah berbuat nakal. Bahkan kata-kata keluhan pun tidak pernah terucap di bibir gadis tersebut. “Salatnya rajin, sekolahnya rajin. Pun mendel mawon (diam saja, Red),” tambah Marjuki yang terus berusaha menahan tangis sehingga bahunya terguncang.

Marjuki berharap, dirinya kembali sehat. Sehingga bisa kembali bekerja apapun agar bisa menghidupi keluarga. Jika memang memungkinkan, dia juga ingin kembali ke kampung halaman di Kalbar. Sebab di sana masih banyak lahan kosong. “Di sana asal telaten bertani, tidak akan kelaparan. Di sini sulit kalau harus bekerja dengan kondisi yang seperti ini,” pungkasnya.

(rk/dna/die/JPR)

Source link