Pengalaman Hari Wahono, Tuna Grahita saat Mengikuti Pilgub 2018 – Radar Tulungagung

Kesibukan mempersiapkan berbagai perlengkapan pencoblosan terlihat jelas di tempat pemungutan suara (TPS) 02, Kelurahan Ngantru kemarin. Mungkin itulah yang biasa dilakukan panitia pemungutan suara (PPS) di tiap-tiap TPS menjelang pencoblosan. Benar saja, ketika dibuka sekitar pukul 07.00, beberapa penduduk yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) TPS tersebut silih berganti datang untuk menggunakan hak pilihnya.

Baru sekitar pukul 09.00, terlihat seorang pria penyandang tuna grahita ditemani sang ibu berjalan menuju TPS tersebut. Ya, pria itulah Hari Wahono, salah satu penyandang disabilitas atau difabel yang akan menggunakan hak suaranya. Bersamaan itu, ketika dia menunggu giliran, datanglah seorang wanita yang diketahui merupakan pendamping untuk difabel ketika mencoblos, Taryaningsih. 

Setelah mendapatkan panggilan, dirinya langsung mengambil surat dan menuju bilik suara untuk menentukan pilihan. Terlihat tidak ada kecanggungan darinya, kendati dalam mencoblos harus didampingi. “Ini merupakan pengalaman pertama saya mencoblos,” ungkap Hari Wahono kepada Koran ini dengan suara terbata-bata.

Benar saja, di usianya yang kini menginjak 38 tahun, sudah beberapa kali melewatkan event pesta demokrasi tersebut, alias golongan putih (golput). Alasannya, karena keterbatasan yang dimiliki dirinya dan kedua orang tuanya merasa kerepotan jika harus pergi ke TPS dan melakukan pencoblosan. “Ternyata mencoblos tidak sulit, meski harus dilakukan dua kali karena coblosan yang pertama kurang begitu terlihat,” tuturnya.

Mengenai dua pasangan yang bertarung dalam pilkada Jatim kali ini, dirinya belum begitu mengenal. Hanya saja, dirinya menentukan pilihan berdasarkan foto pasangan calon tersebut. Sebab, salah satu calon yang ada di foto tersebut mirip seperti saudaranya di luar kota yang penyayang dan sabar. Sehingga figur yang demikian dirinya anggap cocok untuk memimpin Jatim lima tahun ke depan. “Semoga pilihan saya tadi jadi,” kata anak ketiga dari dua saudara ini.

Sementara itu, sang ibu Muryati menambahkan, sebelumnya memang tidak ada rencana untuk melakukan pencoblosan seperti pemilu sebelumnya. Namun setelah dipikir-pikir, karena anaknya memiliki hak, serta telah memiliki e-KTP dan masuk dalam DPT, sangat disayangkan jika hak memilihnya tidak digunakan. “e-KTP itu saya yang mencarikan sendiri. Sebab, anak saya juga memiliki hak yang sama seperti warga negara pada umumnya,” imbuhnya.

Untuk itu, beberapa hari menjelang pencoblosan, dirinya bertanya kepada Hari, apakah mau mengikuti pencoblosan. Setelah mau, dirinya langsung mengikutsertakan dalam sosialisasi terkait pencoblosan tersebut. “Syukurlah prosesnya tidak terlalu sulit karena boleh ada pendamping. Semoga saja pilihan anak saya tadi mampu menjadi pemimpin seperti yang diharapkan,” tuturnya.

Di lain pihak, ketua kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) 02 Kelurahan Ngantru Rudianto membenarkan jika Hari termasuk dalam DPT. Kendati termasuk difabel, perlakuannya sama, yaitu harus melakukan registrasi, antre, dan salah satu jarinya diberi tinta setelah mencoblos. Hanya saja, diberi pendamping yang nantinya memandu proses pencoblosan, dengan catatan tidak ada interferensi untuk memilih pasangan calon tertentu. “Prosesnya berjalan lancar karena pendampingnya telah mendapatkan pembekalan dari KPU dan telah berpengalaman berkomunikasi dengan penyandang disabilitas,” jelasnya. (jaz/ed/tri)

(rt/lai/ang/JPR)