Pengungsi Luar KRB III Terancam Tak Dapat Fasilitas

Kepada wartawan, Senin (6/11) kemarin, Mas Sumatri menyebutkan, jumlah warga yang harus mengungsi karena status gunung berada di level III sekitar 48 ribu orang. Artinya,  banyak warga di luar KRB III bertahan di pengungsian. Pasalnya,  selain jumlah warga yang harus mengungsi tidak sampai 100 ribu orang. Hingga saat ini banyak warga yang berada di zona merah memilih tetap bertahan di kampungnya. “Itu estimasi sementara (sebanyak 48 ribu warga yang kena zona merah). Belum by name by address,” terang Mas Sumatri didampingi Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Karangasem, I Gede Waskita Sutadewa.

Meski tak merinci alasan warga di luar KRB III masih bertahan di pengungsian, bupati wanita pertama di Karangasem ini menerangkan, pengungsi di luar KRB III terancam tak dapat bantuan, baik logistik maupun pelayanan kesehatan selaku pengungsi. Namun hingga kini, diakui Mas Sumatri, pemerintah masih melakukan verifikasi terhadap warga yang pengungsi itu. “Disampaikan sama Pak Gubernur apa, boleh ngungsi, kalau mereka senang (di pengungsian, Red). Cuma ndak dapat fasilitas kan begitu. Itu dikatakan gubernur. Kami sedang verifikasi,” pungkas Mas Sumatri.

Sekadar diketahui, pasca status Gunung Agung turun ke level III (Siaga), luas wilayah yang harus steril dari aktivitas dipersempit. Jumlah penduduk yang harus mengosongkan tempat tinggalnya juga semakin sedikit dibandingkan saat gunung tertinggi di Bali itu status Awas. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), merekomendasikan  agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun pada zona perkiraan bahaya, yakni radius 6 kilometer dari kawah puncak Gunung Agung, ditambah perluasan sektoral sejauh 7,5 kilometer. Ada sebanyak 15 desa yang berada di kawasan tersebut. Namun tidak semua penduduknya harus mengungsi, karena hanya beberapa dusun saja yang berada di zona merah.

Pihak PVMBG juga menyebutkan zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi, bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung terbaru. 

(bx/wan/adi/yes/JPR)

Source link