Perajin Jimbe Kesulitan Penjualan – Radar Banyuwangi

Salah satu perajin jimbe, Pepek Indrawan, 29, asal Desa Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, mengungkapkan penjualan jimbe saat ini mengalami kendala. Bahkan, beberapa perajin ada yang gulung tikar. “Di Kalibaru itu sudah berhenti, ini saya baru istirahat,” jelasnya.

Lesunya pasar jimbe ini, terang dia, karena para importir asal Tiongkok sudah mulai datang sendiri ke Indonesia untuk bertemu dengan perajin. Untuk mencari jimbe, mereka memasang orang kepercayaan untuk mencari produk termurah. Kondisi ini, terang dia, tentu membawa pengaruh terhadap sentra pembuatan jimbe dengan skala kecil. “Di Blitar itu satu desa semua membuat jimbe, otomatis lebih murah, sedangkan di sini (Banyuwangi) kan tidak,” katanya.

Menurut Pepek, pasar jimbe di Tiongkok itu cukup potensial. Biasanya berapapun jumlah barang yang dikirim akan diterima. Tapi saat ini tidak bisa sebebas seperti itu lagi, terutama soal harga akan mencari yang murah. “Sekarang kita jadi lesu,” ujarnya.

Harga Jimbe di Blitar, masih kata dia, secara umum memang lebih murah, meski produksinya masih lebih bagi milik perajin asal Banyuwangi. “Tapi konsumen tidak jeli sampai titik titik tertentu, asal murah dibeli,” ungkapnya.

Pepek menyebut untuk jimbe ukuran sedang dengan bahan kayu mahoni dan kulit sapi yang didatangkan dari Jombang, masih kata dia, harganya Rp 350 ribu hingga Rp 750 ribu. “Kalau di Blitar harganya lebih murah, selisih sampai Rp 100 ribu,” katanya. (*)

(bw/sli/rbs/JPR)

Source link