Perlu Libatkan Banyak Pihak untuk Pulihkan Trauma Anak – Radar Surabaya

AKSI teror bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya memberikan efek trauma kepada banyak orang. Tak hanya korban, kejadian ini juga memberikan dampak yang besar kepada masyarakat terutama untuk anak-anak yang memiliki kepekaan rasa lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Terlebih dalam kejadian tersebut ada yang melibatkan anak-anak. Untuk itulah mengapa langkah Pemerintah Kota Surabaya mendatangi sekolah-sekolah untuk memberikan penanganan pasca trauma kepada anak-anak adalah keputusan yang benar.

Hal ini disampaikan oleh seorang psikolog  dari Untag, Dr. Andik Matulessy, Msi. Pihaknya menjelaskan, adanya kejadian bom beberapa waktu lalu dapat menimbulkan suatu keadaan yang dinamkan Post Traumatic Stress Dissorder(PTSD) atau stres paska trauma.  PTSD ini menimbulkan efek takut bahwa suatu saat hal itu terjadi lagi kepada dirinya dan juga menimbulkan kecurigaan –kecurigaan kepada sekitarnya.   Trauma ini tidak hanya terjadi pada pelaku dan korban, namun juga kepada masyarakat umum.

“Masyarakat yang melihat video, foto dan pemberitaan mengenai aksi teror ini juga bisa mengalami suatu keadaan ini,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Kamis, (25/5).

Ia menambahkan, PTSD ini dialami lebih besar oleh anak-anak. Hal ini karena pada anak-anak, perasaan lebih mereka kedepankan dari pada logika. Sehingga jika terjadi suatu kejadian yang menimbulkan trauma, mereka akan mengalami ketakutan yang lebih besar ketimbang orang dewasa

Jika PTSD ini tak segera ditangani, ia menambahkan, anak-anak yang sering berpandangan umum sesuatu semakin mudah memiliki prasangka dan kecurigaan kepada orang lain. Mereka akan melabeli orang-orang dengan identitas sama akan melakukan tindakan yang sama juga.

Itulah mengapa, ia menambahkan , diperlukan kerjasama anatara Pemerintah Provinsi Jatim, Pemerintah Kota Surabaya, aktifis, mahasiswa, dosen, psikolog dari beberapa kampus untuk turun ke masyarakat terutama ke sekolah-sekolah untuk membantu memberikan penanganan pasca trauma.

Penanganan pasca trauma ini bisa dilakukan dengan konseling dan psikoterapi kepada anak-anak. penanganan pasca trauma ini, ia menjelaskan harus diberikan secara berkala agar benar-benar terserap. (is)

(sb/is/jay/JPR)