Persembahkan Buku Puisi dan Pemeran untuk Guru Budi – Radar Madura

Direktur Komunitas Stingghil Umar Fauzi Ballah menuturkan, antologi puisi ini disusun atas pemikiran beberapa teman sastrawan dan telah disepakaati dewan penasihat. Ballah mengaku sudah meminta izin keluarga. Buku sajak itu akan menjadi catatan penting perjalanan pendidikan di Indonesia.

”Antologi puisi ini kami pandang perlu dan penting untuk mengenang peristiwa tragik itu. Tidak boleh terjadi lagi peristiwa serupa di republik ini,” ucap Ballah kemarin. ”Tema puisi untuk antologi ini tentang pendidikan dan obituari Achmad Budi Cahyanto beserta karya-karyanya,” imbuhnya.

EKSPRESIF: Budayawan D. Zawawi Imron berbincang dengan Kepala JPRM Biro Sampang Hendriyanto sebelum ke rumah duka Achmad Budi Cahyanto.
(GHINAN SALMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

Mereka yang terlibat dalam penerbitan buku tersebut bisa seniman, guru, siswa, dan masyarakat umum se-Indonesia. Tapi, nanti ada kurasi. ”Ini dilakukan agar kemasan buku tidak terlalu tebal. Pengumumannya, akan kami terbitkan 13 Maret 2018,” katanya.

Buku puisi itu nantinya diperjualbelikan dengan catatan, keuntungan akan diberikan kepada ahli waris.”Kami juga berdoa semoga ibu Sinta yang sedang mengandung dikuatkan. Sehingga bayi bisa lahir dengan selamat dan sehat,” harapnya.

Dalam antologi puisi itu, Ballah juga akan berusaha menyusun biografi guru Budi. ”Dengan mewawancarai keluarga, teman dekat, termasuk laporan Jawa Pos Radar Madura selama ini yang terus menulis pemberitaan tentang Budi,” tukasnya.

Ketua KPS Chairil Alwan mengaku akan menggelar pameran instalasi dan pameran seni rupa. KPS ditawari D. Zawawi Imron untuk menyelenggarakan pemeran di Bentang Budaya, Bali. Tawaran tersebut akan dipertimbangkan. ”Kami bahas dengan teman-teman. Insya Allah akan kami lanjutkan,” katanya.

Jadwal pameran seni rupa yang telah diagendakan satu tahun itu didedikasikan untuk Budi. Pada 17–24 Maret ini, Alwan akan menggelar pameran instalasi. Sebelumnya dijadwalkan sebagai pameran instalasi bersama Budi.

”Berhubung kawan kami di KPS telah tiada, agenda pameran 2018 ini sekaligus sebagai dedikasi dan mengenang sosok Budi. Kalau ada karya seni rupa yang terjual, kami donasikan kepada keluarga almarhum” ucapnya.

Kasus penganiayaan siswa kelas XII SMAN 1 Torjun berinisial HZF terhadap Achmad Budi Cahyanto terjadi Kamis (1/2) saat jam pelajaran terakhir dengan materi seni lukis. HZF tidak mengikuti arahan guru dan justru mengganggu teman-temannya. Remaja 17 tahun itu malah mencoret-coret lukisan milik teman-temannya.

Saat ditegur, anak kepala pasar itu tak menghiraukan. Budi menyanksi dengan memoleskan cat ke pipinya sesuai penjanjian awal. HZF tidak terima dan memukul gurunya. Budi kemudian mengambil kertas presensi dan memukul ke arah korban.

HZF menangkis dan memukul sang guru. Pukulan itu terkena pelipis kanan dan mengakibatkan guru yang juga musisi itu terjatuh. Korban meninggal dunia di rumah sakit. HZF telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Kelas II-B Sampang. 

(mr/ghi/luq/bas/JPR)