PH Wijanto Optimistis Kliennya Bisa Bebas – Radar Kediri

Hal itu diyakini dari fakta persidangan. Apalagi, menurut Budi Nugroho, pengacara Wijanto, dalam tuntutan JPU tidak ada keterangan bahwa kliennya turut serta menikmati uang hasil korupsi itu. Selain itu, keterlibatan kilennya dalam proyek itu juga atas perintah atasannya, Kasenan, yang kala itu menjabat kepala dinas PU Kota Kediri.

Seperti diberitakan, JPU menurut Wijanto penjara 4 tahun dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan. Budi menyayangkan tuntutan itu. Pasalnya, dalam tuntutan tak disebutkan kerugian negara yang harus diganti kliennya. “Karena klien saya (Wijanto, Red) memang tidak menerima sepeser pun uang proyek, apalagi menikmatinya,” urainya.

Berbeda dengan Kasenan dan Nur Iman Satryo Widodo selaku pejabat pembuat komitmen (PPK). Dalam tuntutannya, JPU membebankan dua terdakwa ini mengembalikan uang negara. Kasenan diminta mengembalikan Rp 466,5 juta. Sedangkan Nur Iman Rp 25 juta.

“Dari situlah menguatkan bahwa klien saya tidak bersalah. Adapun di fakta persidangan pun menyebutkan klien saya tidak pernah menerima aliran uang dari kasus ini,” terang pengacara yang biasa dipanggil Budi Negro ini.

Makanya pada sidang beragenda pembelaan pada Senin (23/4) mendatang, Budi menyatakan, akan mati-matian meyakinkan hakim bahwa kliennya tidak bersalah. Dia menilai, pendapat JPU bahwa kesalahan Wijanto sebagai ketua lelang yang membuat lelang tersebut memenangkan kontraktor bermasalah, tidak benar. “Karena Wijanto jadi ketua lelang hanya dibuat syarat formal saja,” ungkapnya.

Budi menambahkan, proyek Jembatan Brawijaya sudah ada dan terjadi deal sebelum ada pemilihan wali kota yang akhirnya dimenangkan Samsul Ashar. Kesepakatan itu, menurutnya, antara Samsul dengan Komisaris PT Surya Graha Sejahtera (SGS). Adapun setelah Samsul menjadi wali kota, Wijanto menjadi ketua lelang abal-abal atas perintah atasannya di dinas PU.

“Klien saya jadi ketua hanya untuk genep-genepan saja. Kepala dinas PU sendiri tidak bisa menolak perintah atasannya saat itu karena takut,” papar pria yang pernah menjadi pengacara Sutan Bhatoegana ini. 

Budi optimistis hakim memiliki pertimbangan lain. Selain dari tuntutan JPU. Sehingga dalam putusan nanti kliennya bisa dibebaskan dari jerat hukum apapun. Sebab Wijanto, menurut Budi, hanyalah orang yang dikorbankan untuk menutup-nutupi orang besar yang menikmati uang lebih besar daripada Kasenan maupun Nur Iman. “Kami optimistis bapak Wijanto akan bebas ketika putusan hakim nanti,” tegasnya.

Seperti diketahui, terdakwa Nur Iman dituntut sama dengan Wijanto. Bedanya, ia harus mengembalikan uang kerugian negara Rp 25 juta. Adapun terdakwa Kasenan lebih berat. Dia dituntut 8 tahun penjara dengan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan. Selain itu, juga diwajibkan mengembalikan uang negara Rp 466,5 juta. Sedangkan total kerugian negara akibat korupsi Jembatan Brawijaya sekitar Rp 14 miliar.

(rk/fiz/die/JPR)

Source link