Pilgub Jatim Jadi Perimbangan Pileg dan Pilpres 2019 – Radar Surabaya

SURABAYA – Tahun 2018 menjadi tahun politik bagi masyarakat Jatim. Pasalnya, ditahun ini nanti pemilihan gubernur Jatim digelar.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim telah merilis tahapan pilgub Jatim 2018. Setelah libur tahun baru, komisi pencoblosan ini langung disibukkan oleh persiapan pendaftaran bakal pasangan calon yang bakal diselenggarakan 8-10 Januari. Dilanjutkan dengan pemeriksaan persyaratan klengkapan bakal pasangan calon, termasuk tes kesehatan hingga 15 Januari. Kemudian 12 Februari pengumuman penetapan pasangan calon Gubernur dan Wakil gubernur Jatim.
Sampai saat ini, sudah ada dua bakal pasangan calon, yang sudah mendeklaasikan diri maju di PIlgub Jatim, yaitu Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas dan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistiano Dardak. Pertarungan dua kandiKemudian 12 Februari pengumuman penetapan pasangan calon Gubernur dan Wakil gubernur Jatim.
Sampai saat ini, sudah ada dua bakal pasangan calon, yang sudah mendeklaasikan diri maju di PIlgub Jatim, yaitu Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas yang telah resmi diusung PKB dan PDI Perjuangan. Dan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistiano Dardak didukung Partai Demokrat, Partai Golkar serta Partai Hanura.
Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Airlangga Pribadi melihat, tahun 2018 sebagai tahun politik memiliki pengaruh di pemilu 2019. Dengan jumlah masyarakat terbanyak kedua setelah Jabar, posisi Jatim menjadi perimbangan politik pada pileg dan pilpres setahun berikutnya. “Jatim bakal sangat diperhatikan dalam keterhubungannya dalam Pilpres nanti,” ujar Angga, begitu Airlangga biasa disapa, Jumat (30/12).
Dia menilai, dua kandidat, Gus Ipul dan Khofifah sangat kuat. Semua partai politik terpusat perhatiannya pada kedua poros tersebut. Dimana dua ‘musuh lama’ yang bertemu ketiga kalinya ini merupakan kader NU. “Namun bukan berarti tidak ada bakal pasangan lain. Pilgub kali ini, kalau tidak dua pasangan, ya tiga pasangan,” ungkapnya saat dihubungi Radar Surabaya.
Meski dua kandidat kuat ini diprediksi menguasai pilgub tahun depan. Dan NU memainkan perannya dalam pertarungan nanti. Tetapi kontribusi kaum nasionalis-abangan tidak bisa diabaikan. Peran dua wakil, Anas dan Emil yang diikat akarnya oleh nasionalis sangat menentukan. “Di sinilah keseimbangan politik diuji,” jelasnya. Peran wakil kedua pasangan tersebut diprediksi menentukan kemenangan dalam pertarungan pilgub Jatim.
Direktur Surabaya Survei Center Mochtar W Oetomo juga memiliki pandangan yang sama. Peran wakil dari kedua poros, Gus Ipul dan Khofifah sangat bepengaruh. Pertarungan yang disebutnya ‘dua gajah’ ini bakal tersaji begitu ketat. Sama-sama memiliki basis NU baik secara structural maupun ditingkat bawah, Gus  Ipul dan Khofifah memiliki kekuatan yang berimbang.
Dari survey yang dilakukan semester ketiga 2017, suara Gus Ipul mulai mengimbangi Khofifah di wilayah tapal kuda. Padahal, daerah yang meliputi Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Pasuruan dan Banyuwangi pada pilgub 2008 dan 2013 menjadi basis utama suara menteri social tersebut. “ini logis, Sekaran Gus Ipul ka nada Anas yang nota bene dari Banyuwangi,” kata Mochtar.
Sedangkan wilayah Arek, Surabaya, Sidoarjo dan Gresik yang memiliki jumlah daerah pemilih tetap (DPT) terbanyak di Jatim, sudah diamankan oleh pbakal pasangan calon Gus Ipul-Anas. Dalam hitungan Mochtar, pasangan ini diuntungkan dengan koalisi partai yang mendukungnya. Banyak kepala daerah di wilayah Arek ini dijabat dari dua partai pemilik kursi terbesar di DPRD Jatim.
Lantas bagaimana dengan Mataraman, pengamat yang juga dosen Universitas Trunojoyo Madura tersebut mlihat, bakal pasangan calon Khofifah-Emil bakal mulus di wilayah itu. Digandengnya Emil yang merupakan Bupati Trenggalek menjadi strategi jitu Khofifah meraih suara disana. Ditambah lagi dukungan Partai demokrat, yang ketua DPD, Soekarwo sangat kuat basisnya sebagai putra kelahiran Madiun.
“Tinggal bagaimana suara di kawasan Madura. Di 2008/2013, Madura selalu menjadi masalah jika melihat culture politiknya. Kedua poros ini harus dapat perhatian utama kalau tidak ingin masalah di pilgub sebelumnya bakal terulang,” urainya.
Di Madura, lanjut Mochtar, peran partai juga pasti bermain. Barengnya jadwal pemilihan bupati di beberapa daerah di Madura, tentu menyedot perhatian partai politk untuk juga memuluskan langkah bakal calon yang diusungnya. “Mau tidak mau ada pengaruh partai politik disana,” ungkapnya. (bae/opi)