Kasatreskrim Polresta Sidoarjo Kompol M Harris mengatakan, proses penyelidikan sudah mulai dilakukan unit pidana umum (pidum) Satreskrim Polresta Sidoarjo. Saat ini masih dalam tahap mengumpulkan bukti-bukti terkait kejadian pada 28 Juni 2018. Bukti ini nanti yang akan dijadikan dasar untuk penyelidikan selanjutnya. “Bukti ini yang masih kami kumpulkan. Untuk sementara bukti yang kami dapat masih video yang sempat viral tersebut,” katanya.

Setelah mengumpulkan bukti-bukti yang cukup baru nanti memanggil saksi dan meminta keterangan untuk mengetahui kasus tersebut. Dari saksi ini nanti baru akan diketahui apakah ada unsur yang dituduhkan pada warga Ketampon Permata Bintoro, Dr Soetomo, Surabaya, itu. 

Mengenai kapan mulai meminta keterangan saksi, pihaknya masih belum bisa memastikan. “Kemungkinan minggu depan mulai meminta keterangan saksi-saksi,” ungkapnya.

Pihak Polresta Sidoarjo tak menutup siapa pun yang mengetahui kejadian tersebut dan berada di dalam ruangan tersebut untuk memberikan kesaksian. Kalau memang ada yang mau memberi kesaksian, ia mempersilakan. “Silakan kalau mau bersaksi. Apalagi sidang itu bersifat terbuka sehingga banyak yang tahu,” jelasnya.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Sidoarjo melaporkan dugaan pelanggaran pidana yang terjadi dilingkungan pengadilan. Mereka melaporkan dua orang yang diketahui pada 28 Juni lalu membuat kegaduhan saat siding perdata terdakwa Direktur Utama dan Direktur BPR Jati Lestari Sidoarjo. Dua orang yang dilaporkan adalah Gunde Guntual dan Tuty Rahaya, warga Ketampon Permata Bintoro, Surabaya. (gun/rek)

(sb/gun/rek/JPR)