Polisi Terapkan Pasal Pembunuhan terhadap Tersangka HZF – Radar Madura

Massa gabungan dari empat kabupaten di Madura berkumpul di depan Kantor Pemkab Sampang pukul 07.30. Setengah jam kemudian mereka berjalan kaki menuju mapolres yang berjarak sekitar 200 meter. Setibanya di depan markas polisi yang beralamat di Jalan Jamaluddin itu massa melakukan salat Gaib. Salat itu dipimpin Habib Abdur Rahman. Lalu berzikir dan ditutup dengan doa oleh Tsabit.

”Yang membuat saya sedih, istri almarhum Budi (Sianit Sinta, Red) malam harinya bicara ke istri saya. Pertama saya kehilangan anak dari Budi yang dikandung lima bulan. Saat ini, saya kehilangan Budi dengan kandungan lima bulan,” ceritanya yang disertai tangisan sebagian peserta aksi.

DUKA: Seorang peserta aksi bersedih ketika memanjatkan doa untuk almarhum Achmad Budi Cahyanto.
(DARUL HAKIM/Radar Madura/JawaPos.com)

Setelah itu dilanjutkan orasi bergantian perwakilan tiap kabupaten. Para orator mengaku miris dunia pendidikan ketika ada insiden seorang murid berani memukul guru hingga meninggal dunia. Padahal, guru adalah insan yang mencerdaskan generasi bangsa.

Mereka meminta kepada kepolisian menegakkan hukum meski tersangka di bawah umur. Mereka tidak ingin pelaku bebas. ”Tanpa guru kita tidak akan pernah tahu arti sebuah kehidupan. Guru harus digugu dan ditiru. Kami berharap kejadian ini pertama dan terakhir,” teriak salah satu orator.

Para simpatisan juga membacakan puisi untuk guru Budi di depan puluhan personel keamanan. Sebab, honorer SMAN 1 Torjun itu merupakan guru muda yang inspiratif. Namun, akibat ulah muridnya sendiri, sosok seniman itu meninggal dunia. ”Saya persembahkan puisi untuk Budi dengan judul Belajar Membaca Budi”,” ucap guru SMAN 1 Sampang Moh. Saiful, yang merupakan guru almarhum Achmad Budi Cahyanto.

Pukul 09.15, 20 tim advokasi menemui Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman. Mereka meminta pasal yang diterapkan kepada tersangka ditambah. Saat ini penyidik menerapkan pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan hingga menyebabkan kematian.

Sambil menunggu tim advokasi, massa di luar terus berorasi. Sesekali menyanyikan lagu untuk guru Budi dan bersalawat. ”Kami minta kasus ini ditegakkan. Jangan ada main, meskipun pelaku masih di bawah umur,” tutur seorang orator.

Pukul 10.12, tim advokasi keluar. Mereka menyampaikan bahwa usulan penambahan pasal terhadap tersangka diterima. Setelah itu, massa berjalan menuju kantor kejari di Jalan Jaksa Agung Suprapto. ”Ini tragedi memilukan di dunia pendidikan. Kami menuntut kejaksaan kompak dengan kepolisian supaya tidak ada selisih pasal yang diterapkan,” terang Moh. Salim selaku koordinator lapangan (Korlap).

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman membenarkan pihaknya menambah pasal terhadap tersangka. Pihaknya akan berkoordinasi dengan kejaksaan karena berkas telah dilimpahkan sejak Selasa (6/2). ”Kami akan menambah pasal 338 subsider pasal 351 ayat 3. Pertimbangannya, ketika gelar perkara ada unsur-unsur yang dikaitkan dengan pasal tersebut,” jelas pria asal Ciamis, Jawa Barat, itu.

Kasus penganiayaan siswa kelas XII SMAN 1 Torjun berinisial HZF terhadap Achmad Budi Cahyanto terjadi Kamis (1/2). HZF tidak mengikuti arahan guru dan justru mengganggu teman-temannya. Remaja 17 tahun itu malah mencoret-coret lukisan milik teman-temannya.

Saat ditegur, anak kepala pasar itu tak menghiraukan. Budi menyanksi dengan memoleskan cat ke pipinya sesuai perjanjian. HZF tidak terima dan memukul gurunya. Budi kemudian mengambil kertas presensi dan memukul ke arah korban.

HZF menangkis dan memukul sang guru. Pukulan itu mengenai pelipis kanan dan mengakibatkan guru yang juga musisi itu terjatuh. Korban meninggal dunia di rumah sakit.

(mr/rul/luq/bas/JPR)