PPDB SMPN Berakhir, Tindak Lanjuti Kecurangan yang Dilaporkan Polisi – Radar Bojonegoro

Kepala SMPN 1 Tuban Mukmanan mengatakan, daftar siswa yang  tercantum pada website tuban.siap-ppdb.com adalah hasil akhir. Dia memastikan data siswa yang masuk tersebut tidak akan berubah. Berakhirnya pendaftaran sudah ditandai dengan tanda ”akhir” pada pengumuman status data website. ‘’Yang di daftar tersebut sudah fiks dan tidak akan berubah (sudah dinyatakan masuk di SMPN 1 Tuban, Red),’’ kata dia kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Dengan demikian, segala laporan kecurangan susulan yang baru masuk kemarin dan Rabu hari ini tidak bisa diproses dan ditindaklanjuti. Namun, Mukmanan memberikan pengecualian terhadap laporan kecurangan yang disertai dengan laporan polisi. Jika ada orang tua yang merasa dirugikan dan disertai dengan laporan polisi, pihak sekolah akan memberikan sanksi. ‘’Kalau sudah masuk pidana pasti akan kami beri sanksi,’’ tegasnya.

Mantan kepala SMPN 1 Singgahan ini memastikan 96 siswa yang dinyatakan masuk melalui jalur reguler di SMPN 1 Tuban sudah valid. Dijelaskan dia, satu hari sebelum pengumuman atau Senin (2/7) pihaknya sudah menginstruksikan seluruh panitia PPDB untuk mengecek seluruh nama. Tujuannya, untuk memastikan seluruh nama yang masuk tidak ada lagi yang menuai protes. ‘’Jadi kami sudah cek semua nama, sudah kami pelototi satu per satu,’’ ungkapnya.

Dari seluruh nama yang dicek tersebut, pendidik senior asal Tuban ini mengungkap ada sekitar 20 nama yang ditemukan curang. Kecurangan terbanyak adalah menyertakan sertifikat munaqosah abal-abal. Seluruh nama tersebut sudah diverifikasi dan poinnya dikurangi menjadi 400 sesuai ketentuan. Sementara hanya sebagian kecil yang ditemukan pelanggaran pemalsuan piagam kejuaraan. Untuk pemalsuan piagam, Mukmanan memastikan siswa tersebut sudah mencabut berkas. 

Mantan kepala SMPN 2 Bangilan ini mengatakan, hal-hal yang menjadi celah kecurangan para orang tua sudah dia pelajari dan dilaporkan ke dinas pendidikan (disdik) setempat. Diharapkan, celah tersebut menjadi bahan evaluasi agar tidak kembali terulang pada PPDB tahun berikutnya. ‘’Seluruh laporan kecurangan sudah kami pelajari dan kami buat laporan tertulis untuk kami serahkan ke disdik,’’ kata dia yang berharap tahun depan PPDB tak lagi menuai polemik.

Diberitakan sebelumnya, dunia pendidikan di Tuban kembali tercoreng dengan ulah oknum orang tua siswa pendaftar yang diduga memalsukan piagam olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN) kabupaten untuk penunjang poin mendaftar di SMPN 1 Tuban.

Tak tanggung-tanggung, orang tua siswa berinisial GPL tersebut diindikasi memalsukan dua piagam sekaligus. Yakni, piagam juara dua kejuaraan lompat jauh putri dan juara tiga lari 200 meter putri. Dalam dua piagam tersebut disebutkan event tersebut berakhir Mei 2017.

Strategi GPL untuk menyusupkan dua piagam tersebut nyaris mulus. GPL yang tercatat sebagai siswa salah satu SDN di Kelurahan Sendangharjo, Kecamatan Tuban tersebut sempat menduduki puncak peringkat.

Setelah kasus pemalsuan piagam tersebut diungkap Jawa Pos Radar Tuban, sejumlah orang tua siswa pendaftar lainnya melaporkan dugaan sertifikat munaqosah abal-abal atau palsu.

Munaqosah atau pendidikan agama nonformal merupakan kebijakan Pemkab Tuban untuk mendorong generasi muda rabani yang lebih memahami agama Islam. Siswa yang bisa membaca Alquran dengan baik dan memahami nilai keagamaan lainnya dinyatakan lulus dan mempunyai poin 800. Namun, jika siswa tersebut hanya bisa mengaji tanpa tartil yang baik hanya mendapatkan poin 400. Bagi yang tidak bisa mengaji sama sekali, mereka tidak mendapatkan poin.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

Source link