Prospek  Ekonomi dan Bisnis di Tahun Penuh Tantangan – Radar Solo

IMF dalam laporan World Economic Outlook Oktober 2017 menyebutkan bahwa perekonomian dunia pada 2017 tumbuh 3,6 persen dan pada 2018 pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan meningkat menjadi 3,7 persen. Perekonomian di negara maju mulai bangkit dengan pertumbuhan ekonomi AS yang diperkirakan meningkat dari 2,2 persen di 2017 menjadi 2,3 persen di 2018. Kinerja ekonomi kawasan Eropa pada 2018 diprediksi sedikit melemah dengan pertumbuhan ekonomi 1,9 persen pada 2018 dari 2,1 persen pada 2017.

Pelemahan itu terutama disebabkan masih tingginya utang luar negeri publik maupun swasta. Pada 2018, perekonomian Tiongkok diprediksikan juga melemah dengan pertumbuhan hanya 6,5 persen dibandingkan 2017 yang mencapai 6,8 persen. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melemah karena perubahan kebijakan fiskal pemerintah setempat yang mengarahkan pertumbuhan ekonominya agar lebih berkualitas dengan dukungan investasi asing dan penguatan kebijakan fiskal.

Negara-negara berkembang emerging markets di Asia masih diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi global dengan angka pertumbuhan ekonomi 4,9 persen pada 2018 dari 4,6 persen pada 2017.  Harga komoditas pada 2018, terutama minyak dan gas diperkirakan hanya naik tipis. Minyak bumi diperkirakan naik dari US$ 53 per barrel pada 2017 menjadi US$ 56 per barrel di 2018. Gas juga sedikit naik dari US$ 5,6 per MMbtu (Million British Thermal Unit) menjadi US$ 5,7 per MMbtu pada 2018.

Perekonomian Nasional: Optimis

Asumsi dasar APBN 2018 memproyeksikan dengan optimistis pertumbuhan ekonomi nasional dengan angka 5,4 persen. Angka ini sedikit di atas proyeksi dari IMF, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen.  Pemerintah optimistis bisa mencapai pertumbuhan ekonomi pada level tersebut berdasarkan optimisme hasil dari kebijakan tax amnesty akan mengalir menjadi investasi di sektor riil. Lalu, pembangunan infrastruktur yang akan meningkatkan daya saing dan konektivitas serta konsumsi domestik yang stabil karena inflasi rendah.

Tantangan utama dari asumsi pertumbuhan ekonomi yang optimis ini adalah fakta bahwa pada kuartal III 2017, data menunjukkan konsumsi domestik mengalami pelemahan dari tumbuh 5,5 persen pada kuartal III 2016 menjadi 4,9 persen pada kuartal III 2017. Penjualan ritel pada kuartal III 2017 hanya tumbuh 2,4 persen dibandingkan dengan angka penjualan ritel kuartal III 2016 yang mencapai pertumbuhan 10,4 persen. Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa kelas menengah dan atas Indonesia menahan pengeluaran dengan mengalihkan pendapatan mereka untuk berjaga-jaga dalam bentuk tabungan. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan angka tabungan domestik sebesar 21,1 persen pada kuartal III  2017.

Penurunan penjualan pada sektor ritel ini ternyata merupakan sinyal adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat. Ada gejala pergeseran dari konsumsi fast moving goods menjadi peningkatan konsumsi di sektor restoran dan hotel serta transportasi dan komunikasi sebesar 5 persen sepanjang 2017. Hal ini menjadi informasi penting bagi pebisnis yang terkait dengan sektor-sektor tersebut.

Beberapa tantangan yang harus dicari solusinya juga mewarnai perekonomian nasional pada 2018. Masalah struktural yang perlu diatasi atau paling tidak dimulai penyelesaiannya pada 2018, adalah ketimpangan kesejahteraan, penguatan iklim bisnis dan daya saing, mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Ketimpangan kesejahteraan di Indonesia menjadi masalah struktur ekonomi yang sampai saat ini belum ada penyelesaian secara komprehensif.

Angka Gini Ratio nasional pada 2017 mencapai 0,39 yang berarti level disparitas kesejehateraan terus mengalami peningkatan. Angka Gini Ratio di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya bahkan sudah mencapai 0,42. Penguatan iklim bisnis dan daya saing adalah hasil yang diharapkan dari pembangunan infrastruktur yang menjadi salah satu  prioritas kebijakan ekonomi Presiden Jokowi. Paket kebijakan ekonomi sebenarnya diharapkan pemerintah menjadi katalis perbaikan iklim investasi, namun transmisi kebijakan ini di level daerah belum optimal.

Prospek Ekonomi Jateng dan Solo Raya

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada 2017 relatif sama dengan pertumbuhan ekonomi nasional yaitu berada pada kisaran 5,2 persen. Secara umum terjadi pelemahan di beberapa sektor pertanian, industri pengolahan, dan sektor perdagangan. Tren melemahnya daya beli masyarakat juga terjadi di Jawa Tengah. Sektor usaha konstruksi, teknologi informasi dan transportasi mengalami kenaikan sepanjang kuartal III 2017. Pada 2018, perekonomian Jawa Tengah diproyeksikan tumbuh 5,2 persen, sedikit di bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Solo Raya yang terdiri dari Kabupaten Boyolali, Klaten, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Wonogiri, dan Kota Surakarta merupakan kawasan yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian di Jawa Tengah.  Pada 2018 kawasan ini diperkirakan tumbuh 5,4 persen sampai 5,7 persen. Empat sektor utama pendukung perekonomian kawasan ini adalah industri pengolahan, perdagangan eceran, pertanian, dan konstruksi.

Beberapa bisnis di bidang ekonomi kreatif berpotensi untuk berkembang di kawasan Solo Raya, terutama yang terkait dengan fashion dan mebel serta handycraft. Selain itu, bisnis MICE dengan bundling event wisata, kuliner, perhotelan, dan transportasi menjadi bisnis yang mempunyai prospek cerah di kawasan Solo Raya.

(rs/fer/fer/JPR)