Dugaan wanprestasi proyek pengerjaan pabrik air minum dalam kemasan (AMDK) yang diajukan penggugat PT Sariguna Prima Tirta melawan tergugat Tanto Gumanta dan Elly Setiawati kemarin digelar di Pengadilan Negeri Sidoarjo. Sebelumnya, majelis hakim yang diketuai Syafruddin menolak eksepsi tergugat.
Gugatan ini bermula dari kekecewaan manajemen PT Sariguna Prima Tirta. Sebab, pekerjaan pembangunan gedung pabrik dinilai penggugat tidak dapat diselesaikan sesuai kontrak. Pihak penggugat kemudian menyerahkan bukti-bukti berupa print out atau fotokopian.
Kuasa hukum tergugat, Samuel E Rambing, mempertanyakan keaslian bukti tersebut. “Merujuk yurisprudensi Mahkamah Agung (MA), pembuktian harus ada aslinya. Bila tidak membawa asli berarti dinilai tidak membawa bukti,” katanya.
Samuel menambahkan, kliennya yang justru dirugikan. Sebab, dari 16 item pekerjaan proyek, klaim dia, tiga item sudah selesai 100 persen. “Penggugat malah tidak membayarkan lebih dahulu per item pekerjaan yang telah selesai itu,” imbuhnya.
Samuel mengatakan, total nilai proyek ini Rp 30 miliar. Sebanyak Rp 20 miliar telah dibayarkan oleh pihak penggugat. “Masih ada kekurangan Rp 17 miliar kerugian plus denda atas tagihan tagihan yang belum dibayarkan penggugat,” katanya.
Kuasa hukum penggugat, Erni Setiati, enggan berkomentar terkait gugatan ini. Termasuk soal bukti fotokopian yang dipersoalkan tergugat. (mus/rek)