Pura Berornamen Unik, Sudah Ada Sejak Abad 17 Nyaris Dibongkar – Bali Express

Mendengar informasi ini, Dinas Kebudayaan Kota Denpasar bersama Tim Arkeologi serta Tim Dewan Pusaka Kota Denpasar yang dipimpin Kadisbud Denpasar, I Gst Ngurah Mataram  langsung turun tangan guna mendatangi Pura yang disungsung 33 KK tersebut, Senin sore (18/12).

Tim Dewan Pusaka Kota Denpasar  bersama Balai Pelestarian Nilai Budaya  itu dipimpin langsung Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar  I Gst Ngurah Mataram  langsung menemui pengempon pura untuk mensosialisasikan keberadaan situs. Langkah ini dilakukan  guna melindungi keberadaan pura yang tergolong situs,  agar perbaikan yang dilakukan masyarakat  tidak merusak atau menghilangkan aslinya.

“Kami mendapatkan laporan  dari pecinta situs bahwa  memang ada keinginan dari pengempon Pura Batur Sari ini untuk  merenovasi pura karena dapat bantuan  dana hibah dari provinsi,  ternyata pura ini merupakan situs yang harus dilindugi, oleh panitia berencana merubah 4 palinggih yang ada, dan kami dari Dinas Kebudayaan dan  Balai Arkeologi serta Dewan Pusaka mengecek langsung, dan benar adanya, keberadaan palinggih yang ada ini  cukup kategorinya sebagai situs yang dilindungi, “ kata Kadisbud Denpasar, I Gst Ngurah Mataram dididampingi Ketua Dewan Kota Pusaka Denpasar I Made Mudra di  lokasi.

Ngurah Mataram mengungkapkan, pengecekan kali ini pihaknya mengajak Balai Cagar Budaya agar ikut  mendampingi pengempon pura dalam proses renovasi ini.  Keberadaan cagar budaya harus dilindungi, sesuai Undang-undang  No 11 tahun 2010 yang telah ditetapkan. “Kita harapkan proses pembangunan ini  tidak mengubah bentuk , walaupun ada pembongkaran nanti ada tim dari Badan Cagar Budaya dan Dewan Pusaka Kota bisa terlibat untuk mendampingi pengerjaannya, sehingga bentuknya tetap seperti semula, “ tandasnya.

Palinggih yang mau direnovasi dan memiliki ornamen unik dan bersejarah tersebut di antaranya, Palinggih Gunung Sari, Palinggih Pemayun Batur, Palinggih Pemade Batur, Palinggih Sambangan. “Kami harapkan setiap warga masyarakat, kedepan bisa melaporkan apabila ada keinginan memperbaiki benda cagar budaya, baik pecinta situs maupun warga bisa melibatkan kami di Kota Denpasar, sekarang ada Dewan Kota Pusaka Denpasar, serta ditindaklanjuti Balai Arkelogi dan Cagar Budaya Bali,” sarannya.

Sementara itu salah seorang  pengempon Pura  I Nyoman Asta Jaya didampingi  Pemangku Gede Batur Sari Ceramcam Jro Mangku Gede  Nyoman  Subiksha, SE ,  menuturkan memang ada proposal untuk memohon dana hibah ini dari provinsi senilai Rp 100 juta. “Dana itu sudah turun dan dijadikan barang berupa batu bata, namun dari hasil kesepakatan pengempon akan merehab keberadaan palinggih, yang sedianya akan dilakukan upacara nuntun pada Selasa (19/12) hari ini, tapi berkat informasi dan kesigapan dari pecinta peduli situs  kami tidak paham bahwa pura ini tergolong situs, “ kata Asta Jaya.

Lanjut Asta Jaya, pihaknya sangat mengapresiasi kedatangan peduli situs bersama pemerintah yang memberikan pemahaman dan sosialisasi keberadaan situs termasuk Pura kami. “Intinya, kami selaku warga masyarakat memang tidak mengetahui adanya sosialisasi tentang situs, bagaimana seharusnya pembangunan ini tetap berjalan, kami harapkan peran pemerintah bisa memperhatikan agar kami tidak disalahkan,” terangnya.

Di lain pihak, Made Bakti Wiyasa mewakili Masyarakat Peduli Situs Indonesia mengapresiasi  sigapnya Kadisbud Kota dan Dewan Pusaka Kota Denpasar dalam melakukan tindakan penyelamatan terhadap situs Batur Sari Ceramcam sebagai warisan budaya dan dugaan situs cagar budaya. “Menurut balai arkeologi  berdasarkan ciri khas bebadungan dan arca, pura ini  menandakan sudah ada  dari abad ke -17 ,  atau 300 tahun yang lalu,” ucap Wiyasa.

Untuk diketahui dalam UU No 11 Tahun 2010, tentang Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya,   Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. 

(bx/gus /bay/yes/JPR)

Source link