Pura Penyegaraan, Hanya Disungsung oleh Anak Pertama dari Petandakan – Bali Express

Pura Penyegaraan dibilang unik karena  masyarakat yang berasal dari Desa Petandakan dimana pun berada yang memiliki anak pertama di setiap generasi, wajib menyungsung pura ini dengan menghaturkan sesajen berupa babi guling betina.

Kelian Desa Adat Petandakan, Putu Gelgel kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Minggu (7/5/2017), menceritakan, jika belum ada catatan tertulis yang mengulas sejarah Pura Panyegaraan yang ada di daerahnya itu. Meskipun demikian, pihaknya tak putus asa, dengan berulang kali mencoba menelusuri rekam jejak Pura Panyegaraan dengan mendatangi pusat Lontar Gedong Kertya. Namun, hasilnya selalu nihil. Sehingga, sampai sekarang belum diketahui mengapa bisa ada tradisi wajib menyungsung pura ini dengan menghaturkan sesajen berupa babi guling betina.

“Tetapi atas dasar keyakinan yang kuat serta hukuman berupa sakit berkepanjangan, apabila tidak dijalankan membuat tradisi tersebut hingga sekarang tetap berjalan,” terangnya.

Dikatakannya,  bahwa dulu palinggih itu berada di bawah pohon asem, yang  dikeramatkan. “Namun karena kondisinya sudah tua, sehingga ambruk dan dibuatkanlah palinggih seperti sekarang ini,” kata Putu Gelgel.

Menurut Gelgel, para tetua terdahulu di desanya juga tidak ada yang tahu bagaimana awal mula sehingga ada tradisi unik tersebut, dan diyakini dan dijalani hingga turun temurun.

“Pura Panyegaraan disungsung oleh anak pertama di setiap generasi, baik cewek maupun cowok, bahkan dimana pun berada wajib datang untuk mengahturkan sesajen dengan sarana utama babi guling,” terangnya. Persembahan babi guling ini, lanjutnya, hanya dilakukan sekali seumur hidup.

Putu Gelgel mencontohkan, bila ia punya anak pertama, maka anak pertamanya itu harus menghaturkan sesajen berupa babi guling yang babinya warna hitam. “Nah jika anak saya itu punya anak lagi, maka anak pertama (cucu saya) harus menghaturkan babi guling lagi, begitu seterusnya namun hanya boleh dilaksanakan oleh anak pertama,” ujarnya.

Lantas, apa akibatnya seandainya tradisi tersebut tidak dijalankan? Putu Gelgel langsung merunut kisah warga asal Petandakan yang merantau atau bermukim di luar desa, bahkan luar Bali hingga luar negeri, yang lupa dan tidak menjalankan tradisi tersebut.

“Rata-rata mereka kesakitan, sehingga banyak di antaranya ketika sakit berobat mencari paranormal, dan  disarankan menghaturkan babi guling ke Pura Panyegaraan ini. Setelah dicek, memang yang bersangkutan itu adalah anak pertama. Namun, karena di rantauan dia lupa, sehingga terjadi masalah.  Putu Gelgel pun sering mengamati orang-orang yang sedang menghaturkan Babi Guling tersebut di Pura Panyegaraan. Setelah ditanya  yang bersangkutan ternyata memang sedang mengalami sakit berkepanjangan, sehingga ada petunjuk untuk menghaturkan sesajen kepada Ratu Ngurah Segara. “Ada warga yang tinggal di luar negeri lama, namun mengalami sakit pada tangannya, yang tidak bisa disembuhkan secara medis. Akhirnya menghaturkan sesajen babi guling dan hingga kini sembuh. Padahal sudah menghabiskan uang lumayan besar untuk berobat di rumah sakit,” bebernya.

Soal keunikan lainnya? Putu Gelgel menyebutkan jika di Pura Panyegaraan tidak pernah ada pujawali khusus. Namun, pamedek yang tangkil ramai pada saat purnama dan tilem dengan membawa sesajen berupa babi guling hitam berjenis kelamin betina. Dan, sudah dipastikan, meskipun ada pamedek yang dari luar Buleleng, pasti leluhur mereka berasal dari Desa Petandakan.

”Ya entah ibunya, bapaknya, kakeknya, neneknya atau

buyutnya berasal dari Desa Petandakan, sudah wajib bagi anak pertama di tiap generasi tangkil ke sini,” urainya.

Jika berani tidak nangkil, lanjutnya, mereka bisa terkena musibah sakit berkepanjangan.

Ada dua Jero Mangku di pura ini, yaitu Jero Mangku Istri Luh Gingsih dan Jero Mangku Lanang Nyoman Masa. Keduanya bergiliran melayani umat yang nangkil setiap purnama tilem atau bahkan hari-hari raya lainnya.

Jika dicari makna Pura Panyegaraan, Putu  Gelgel menafsirkan kalau pura tersebut memiliki makna , yaitu sebagai

penyegaran berasal dari kata ‘segar’ atau ‘seger’ atau sembuh. Sehingga tempat suci ini dijadikan sebagai ajang menyembuhkan jiwa yang sakit. Namun, jika dilihat dari makna segara yang lainnya adalah identik dengan laut, sehingga laut simbol Dewa Wisnu, makanya dipergunakannlah babi hitam sebagai sesajen utama dalam persembahan. Di mana warna hitam merupakan warna simbol Dewa Wisnu dalam Dewata Nawa Sanga.

Putu Gelgel berharap agar Pura Panyegaraan ini dijadikan ajang untuk merekatkan kembali tali kekerabatan yang dari generasi ke generasi berikutnya, justru semakin menjauh, khsusunya bagi masyarakat Desa Petandakan.

(bx/dik/yes/JPR)

Source link