Putri Regina Suhartono, Peraih NUN Tertinggi SMP di Kabupaten Kediri – Radar Kediri

Meraih nilai tertinggi dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) se Kabupaten Kediri tak pernah terbayangkan oleh Putri Regina Suhartono. Karena dia merasa soal ujian sulit-sulit. Lebih bervariasi. Bahkan, gadis asal Dusun Jambean, Desa Manggis, Kecamatan Puncu ini menganggap soal UNBK setara degnan soal-soal Olimpiade Sekolah Nasional (OSN).

“Sulit Mbak, ndak nyangka malah nilai saya tertinggi,” akunya.

Mungkin karena tingkat kesulitan soal itulah target pribadinya meleset. Yaitu untuk nilai matematika. Sebelum ujian dia mematok target mendapatkan nilai sempurna untuk mata pelajaran itu.

“Sayang sekali kemarin itu nilai (matematika) saya hanya 95,” ucap gadis 15 tahun ini.

Penyuka olahraga bola voli ini menjadi yang terbaik di antara siswa se Kabupaten Kediri setelah mendapatkan nilai total 371 dalam UNBK. Rinciannya,  bahasa Indonesia mendapat nilai 90. Kemudian bahasa Inggris nilai 96, matematika mendapat angka 95, dan IPA meraih nilai 90.

Gadis yang biasa disapa dengan panggilan Regina ini tak punya strategi khusus agar mendapatkan nilai seperti itu. Hanya, ada satu ritual yang tetap dia praktikkan hingga ujian waktu itu. Yakni, dia minta sang ibu melangkahinya terlebih dulu. Sebelum dia berangkat ujian.

Menurut Regina, ritual itu bukan sekadar mitos. Tapi, dia menjadi semakin mantap hati setelah sang ibu melangkahinya. “Untuk menguatkan mental. Ketika saya dilangkahi ibu, terucap doa-doa pula,” terangnya.

Sri Mariati, sang ibu, menganggukkan kepala mendengar penjelasan Regina. Sri pun mengatakan, tiga kali dia melangkah, melewati tubuh sang putri. Sebelum kemudian Regina berangkat sekolah. Menurutnya, ada harapan dan doa dalam setiap langkahnya itu.

Mungkin, ritual itu yang menjadi pembeda antara Regina dan teman-teman sebayanya dalam menghadapi ujian nasional. Selebihnya, dia merasa biasa saja. Tak beda dengan yang lain. Bahkan, seminggu menjelang UNBK Regina justru seringkali santai. Bila dihitung, sulung dari dua bersaudara ini hanya belajar 5-6 jam saja sehari. Itupun dalam waktu yang berbeda-beda.

Yang dia pelajari pun yang praktis-praktis saja. Yaitu berlatih mengerjakan soal-soal. Dia tak pernah memahami lagi materi yang telah lalu. “Kalau materi itu sudah saya persiapkan dari semester satu kelas tiga Mbak,” akunya.

Artinya, Regina memang telah mempersiapkan diri menghadapi UNBK sejak jauh-jauh hari. Sejak kelas sembilan. Selama itu, belajar rutinnya diperkaya dengan ikut bimbingan belajar (bimbel). Juga aktif mengikuti tryout-tryout.

Sebenarnya, tanda-tanda kemampuan Regina sudah tampak sejak tryout. Dia mendapat juara ketika dalam tryout di MAN 3 Pare. “Semakin sering ikut tryout kan semakin varian soal-soal yang saya coba,” jelasnya.

Ada lagi yang unik dari cara belajar Regina. Yakni sembari mendengarkan musik. Musiknya pun bukan klasik atau jazz, anak Anis Suhartono ini lebih suka mendengarkan musik pop. Baik pop Indonesia maupun barat.

“Saya heran, bagaimana (pelajaran) bisa masuk kalau mendengarkan musik sambil belajar. Tapi nyatanya dia bisa,” sambung Anis, sang ayah.

Tapi, ada satu hal yang tak dilupakan oleh Anis tentang anaknya. Yaitu selalu meminta makanan kesukaan sebelum berangkat sekolah maupun belajar. Makanan favorit itu adalah sambel tempe. Tempe yang digoreng dipadu dengan sambel bawang. “Sambel dan tempenya dipenyet, wes marem dia,” tutur Anis.

Hebatnya, prestasi akademis gadis tomboy ini ternyata tak mengurangi kegiatan olahraganya. Hingga saat ini dia aktiv bergabung dengan klub bola voli Putri Kelud di Pare. Sepulang sekolah, walaupun baru mengikuti tambahan belajar, ia masih ikut voli. Jadwal latihannya pada Senin, Rabu, dan Sabtu, juga tetap diikuti. Mulai pukul 15.00-17.00 WIB.

Bagi Anis, dia suka anaknya hobi bola voli. Pasalnya, voli bisa mewadahi kegiatan positif sang anak. Agar tidak terjerumus ke tindakan negatif. “Nanti ketika pulang pasti sudah capai lantas tidur. Jadinya, dia juga jarang main ke luar rumah,” tambah pria berpangkat Sertu di Kodim Pare ini.

Dan memang, bila terpaksa harus jalan-jalan, gadis yang bercita-cita masuk Akademi Kepolisian (Akpol) ini melakukannya bersama keluarga. Ini yang semakin mengakrabkan hubungan gadis yang bercita-cita masuk ke SMAN 2 Kediri ini dengan keluarganya.  

(rk/*/die/JPR)

Source link