Redam Isu SARA Pasca Perkelahian, Tokoh Dalung Dikumpulkan – Bali Express

“Kami hari ini berkumpul di ruang rapat kantor Desa Dalung untuk bersama sama meredam isu – isu yang berbau SARA. Terkait kejadian penganiayaan yang terjadi Sabtu lalu. Dimana pada kesempatan ini masyarakat melalui para tokoh berupaya tetap menjaga keharmonisan dan keamanan di wilayah Desa Dalung,” terangnya.

Kapolsek Kuta Utara mengumpulkan para tokoh tokoh masyarakat yang disaksikan Camat Kuta Utara, AA Ngurah Arimbawa Senin (6/11). Pertemuan tersebut dihadiri ‎Kepala Desa Dalung, I Gede Putu Arif Wiratya, Bendesa Adat Dalung I Nyoman Widana, Kaling Banjar Tegeh, I Ketut Armanto, ‎Kaling Banjar Kaja, I Made Sudana,  ‎Pecalang  Desa Dalung dan dihadiri pula korban penganiayaan I Gusti Rai.

Dalam pertemuan itu, Kapolsek Kuta Utara menekankan agar para tokoh masyarakat di Desa Dalung untuk menyikapi permasalahan yang terjadi secara hati nurani. Serta mengedepankan kearifan lokal sehingga permasalahan tersebut tidak dibawa kepada isu – isu berbau SARA. Agar permasalahan tersebut tidak meluas yang dapat menimbulkan citra negatif di Pulau Bali dimana Pulau Bali menjadi sorotan dunia dalam hal pariwisata.
“Mari bersama – sama mencegah isu -isu yang tidak benar di masyarakat terlebih di media social. Dimana banyak bermunculan berita bohong atau hoax yang sengaja dihembuskan orang yang tidak bertanggung jawab . Yang dapat merusak keharmonisan yang telah terjalin,” terangnya.

Sedangka Camat Kuta Utara, AA Ngurah Arimbawa juga menyampaikan hal yang sama.Mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya Desa Dalung melalui para tokoh tokohnya untuk bijaksana menyikapi permasalahan tersebut. “Kita semua agar tetap menjaga keharmonisan, kemajemukan masyarakat di Desa Dalung. Permasalahan ini jangan sampai merusak hubungan yang telah terjalin selama ini, mari bersama sama saling rangkul, saling asah asih dan asuh. Selain pihak kepolisian, para tokoh dan pecalang memiliki peran besar dalam menjaga wilayahnya sehingga kejadian serupa tidak terulang lagi,” terangnya.

Kasat Reskrim Polres Badung AKP I Made Pramasetya saat dihubungi mengatakan, kericuhan di TKP Abianbase, Dalung, Kuta Utara tersebut dipicu saling pandang antara oknum masyarakat setempat dan oknum orang Sumba. Lalu keduanya terlibat cekcok yang berujung pada kericuhan yang melibatkan teman – teman masing oknum. 

“Berdasarkan olah TKP dan pemeriksaan saksi, muncul dua tindak pidana. Yaitu tindak pidana pengerusakan (pasal 170 KUHP), yang dilakukan oknum Sumba. Dengan merusak sepeda motor Vario oknum Bali. Dan tindak penganiayaan (pasal 351) yang mengakibatkan luka terhadap orang Sumba. Untuk pelaku 170 TSK sudah teridentifikasi dan sedang dilakukan pemeriksaan. Dan untuk pelaku 351 juga sudah teridentifikasi dan sedang di lakukan pengejaran,” terangnya. 

(bx/afi/ima/yes/JPR)

Source link