Ribuan Jamaah Ngaji Pitulasan Padati Jalan Sunan Kudus – Radar Kudus

KUDUS – Ribuan jamaah Pengajian Pitulasan Al Masjidil Aqsha Menara Kudus memadati Jalan Sunan Kudus Senin (11/6) malam. Para jamaah memenuhi sepanjang perempatan Jalan Menara hingga perempatan Jember itu dengan antusias mengikuti pengajian yang dilaksanakan di Gedung Menara, Jalan Sunan Kudus No. 194 Kudus.

Pengajian yang digelar dalam rangka Malam Khataman Darusan Umum 1939 H itu dimulai sekitar pukul 21.00 dengan pembukaan oleh Mc Fatchan. Lalu usai pembacaan Alquran oleh Ahmad Ma’ruf Irsyad, para jamaah bersama-sama dipimpin M. Jauhar melantunkan salawat Asnawiyah.

Tadarus Alquran juz 30 oleh M. Noor Syukron, Ashfal Maula, dan Nuril Aula melengkapi agenda berikutnya, dilanjutkan tahlil oleh Ahmad Hanafi beserta doa oleh KH M Ulil Albab Arwani. Berikutnya,  Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) KH Em Nadjib Hasan membacakan langsung beberapa tanya jawab as’ilah yang juga dibukukan.

KH Em Nadjib membacakan beberapa pertanyaan beserta jawaban dari 27 pertanyaan seputar syari’at yang ditanyakan sepanjang darusan sejak 3-27 Ramadan. Buku tanya jawab itu sendiri dijual di sekitar pengajian dengan biaya Rp 10 ribu.

Beberapa permasalahan yang dibahas dalam buku itu antara lain, mengenai salat yang lebih khusuk di rumah, menyedot mentol gosok saat puasa, masuk masjid saat azan. Selain itu, ada pertanyaan gantungan kunci dari gigi macan, hingga hewan sembelihan yang tidak langsung mati ketika disembelih.

Dalam agenda ini, panitia membagikan berkat sekitar 2.500 buah, kopi dan teh lebih dari 2.000 gelas di stan yang disediakan. Hadirin di pengajian ini dari sejumlah daerah di sekitar Kudus seperti Jepara, Demak, Pati dan Rembang, bahkan Semarang.

Hadir memberikan mauidhoh hasanah, KH Habib Umar al Muthohar asal Gunungpati Semarang. Dalam ceramahnya, Habib Umar menyebut mengapa disembunyikan Lailatul Qodar. Yakni, agar umat Islam tidak bermalas-malasan ketika beribadah.

”Kalau misalnya sudah tahu akan turun di malam ke-27, nanti ibadahnya pas malam itu saja. Karena itu, disembunyikan di waktu-waktu ganjil sepuluh hari terakhir,” ujarnya.

Pengajian Pitulasan ini awalnya digagas saat masa Mbah Asnawi. Diadakan setiap bulan setiap 17 Hijriyah. Namun, perkembangannya pengajian tersebut diselenggarakan bersamaan dengan khataman di Ramadan.

”Sekarang pengajian umum itu kiainya yang disukai masyarakat untuk memantik minat. Jadi, akhirnya disederhanakan setiap khataman Ramadan saja,” ungkap ketua panitia penyelenggara Pengajian Pitulasan Nailal Muna. 

(ks/ful/ris/aji/JPR)