Ribuan Keluarga Masih BAB Sembarangan – Radar Kudus

Utamanya Pemkab Pati, terlebih karena 2019 mendatang target bebas BABS harus tercapai. Banyak faktor yang melatarinya. Faktor tersebut meliputi kebiasaan, ekonomi, dan ketersediaan lahan.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati Edy Sulistyono melalui Kasi Kesling Kerja dan Olahraga mengaku, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan dan pemetaan wilayah mana saja yang masih BABS. Melalui sanitari total berbasis masyarakat (STBM), menyasar sumber air bersih dan sanitari layak.

Salah satu poin terpenting dalam STBM adalah open defecation free (ODF) atau kondisi 100 persen masyarakat bebas BABS. Saat ini masih ada 6,07 persen atau 23.703 keluarga di Pati yang masih BABS. Dari data puluhan ribu itu, masih ada yang aksesnya menumpang, mempunyai jamban sehat permanen, dan jamban sehat semi permanen.

“Sudah ada 97 desa yang ODF menyebar di seluruh kecamatan. Sedangkan kecamatan yang paling banyak BABS yakni Jaken, Kayen, dan Kecamatan Sukolilo. Sementara itu kecamatan yang paling sedikit BABS yakni Kecamatan Gembong, Batangan, dan disusul Kecamatan Jakenan,” ungkapnya kemarin.

Saat ini, pihaknya tengah berupaya untuk mendata dan mengajak lintas sektoral untuk menyukseskan ODF. Sebab, hal itu tidak hanya tugas DKK saja. Melainkan butuh perhatian stakeholder. Misalnya saja dari DPU atau Dispermades dari segi pembangunan fisik dan DKK untuk perubahan perilakunya bisa mempunyai jamban sendiri atau menumpang BAB.

Sebab faktor terbanyak dari perilaku. Ada yang masih suka BABS di sungai, hutan, dan lainnya. Bahkan jika ada warga yang kaya dan mempunyai closet modern, tapi salurannya dialirkan ke sembarang tempat itu masih dianggap BABS. Berbeda lagi ada masyarakat kurang mampu yang BAB di penampungan tertutup rapi itu tidak tergolong BABS.

“Banyak yang seperti itu mempunyai rumah mewah tapi sanitasinya dialirkan ke sungai misalnya. Itu termasuk BABS karena kotoran yang dibuang sembarangan bisa mengganggu kesehatan  dan dapat menimbulkan penyakit berbasis lingkungan,” jelasnya.

Sementara Itu, Warga Bumi Mina Tani yang masih BAB sembarangan masih menyentuh angka 23.703 keluarga. Beberapa kecamatan terbanyak BAB sembarangan berada di daerah kumuh yang dekat dengan bantaran sungai. Salah satunya di Kecamatan Juwana.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Pati, dari 29.219 jumlah KK di Juwana. Dari jumlah tersebut yang masih BABS ada 1.930 KK. Sementara lainnya ada yang menumpang sebanyak 113 KK, memiliki jamban sehat permanen (JSP) ada 15.272 KK, dan jamban sehat semi permanen (JJSP) ada 11.107 KK.

Banyaknya masyarakat yang BABS seperti di Desa Kudukeras, Juwana. Desa yang berada di bibir Sungai Silugonggo itu kerap memanfaatkan WC bersama-sama yang sanitasinya dibuang ke sungai. Satu bangunan WC bisa dimanfaatkan beberapa KK. Selain itu, daerah itu juga tergolong kumuh. Selain faktor ekonomi, factor perilaku juga mendominasi.

Salah satunya di Desa Doropayung, Juwana. Di lokasi pemukiman pinggir Sungai Silugonggo, ada WC terbang yang digunakan ramai-ramai. Bangunan WC itu berada di atas sungai. Tingginya hanya sekitar satu meter dan sudah bisa menutup warga yang tengah buang hajat di WC itu.

Hingga  kini perilaku BABS masih terjadi, meski sudah ada bantuan jamban. Salah satu warga Desa Doropayung, Juwana, AR, mengaku BAB di sungai sudah menjadi kebiasaan.

Padahal, masyarakat sudah mempunyai jamban di dalam rumah. Bangunan rumah wargapun cukup bagus dan besar. Pihak desa pun sudah memberikan bantuan jamban di dalam rumah, tetap tidak dipakai. Ini karena kebiasaan sejak kecil, mereka lebih memilih BAB di bantaran sungai.

“Sejak kecil saya sudah terbiasa BAB di sungai. Lima tahun lalu saya sudah membangun jamban dalam rumah. Tapi kadang-kadang masih BAB di sungai,” ungkap ayah satu anak ini.

Menurutnya, saat ini WC terbang di pinggir sungai sudah berkurang. Dulunya sekitar 1990 an ada lima WC terbang. Sekarang sudah banyak yang mempunyai jamban di dalam rumah. Jadi sudah banyak yang buang hajat di dalam rumah. Walaupun kadang-kadang lari ke WC terbang, terutama yang laki-laki.

Walaupun itu sudah jelas-jelas mereka BAB sembarangan, tapi pria yang berprofesi sebagai nelayan ini merasa itu bukan BAB sembarangan. Karena kotorannya langsung mengalir oleh air sungai. Sungai Silugonggo lumayan besar, bukan kali kecil yang mampet.

Sementara itu salah satu warga Desa Kudukeras, Juwana, mengaku, sudah puluhan tahun menggunakan WC tak layak yang sanitasinya langsung ke sungai. Selain itu, ia tak mempunyai uang membangun jamban yang layak.

“Sudah nyaman kebiasaan seperti itu (di sungai). Biasanya kalau mau buang air besar bawa air untuk membasuh. Kalau mau bangun tidak punya uang yang banyak. Karena membangun jamban yang layak membutuhkan biaya tak sedikit,” katanya.

(ks/put/him/top/JPR)