Robot Sempat Rusak, Akhirnya Tetap Gondol Juara – Radar Bojonegoro

——————————-

——————————-

Wajah Lina Yuliana berbinar. Senyum mengembang dari bibirnya. Maklum, siswi kelas X di SMAN 1 Baureno itu baru saja memenangkan juara dua robotik tingkat nasional.

Bersama lima temannya, dia berhasil menjuarai lomba karya teknologi yang diadakan oleh Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

’’Rasanya senang sekali. Ini sebuah prestasi yang besar buat kami,’’ ungkap Lina saat ditemui di sekolahnya pekan lalu.

Ya, itu adalah pengalaman pertamanya mengikuti kejuaraan robotik tingkat nasional. Maklum, dia juga salah satu anggota baru dalam tim robotik di sekolahnya.

Bahkan, satu-satunya perempuan. Tahun lalu, dia belum bergabung. Sebab, masih duduk di bangku SMP.

Begitu masuk SMA, dia langsung ikut ekstrakurikuler robotik, karena itu adalah ekstrakurikuler kesukaannya. ’’Saya memang suka robot sejak masih SMP,’’ jelasnya.

Dia tidak merasa aneh dengan kebanyakan temannya yang laki-laki. Sebab, robotik kebanyakan diikuti oleh siswa laki-laki. ’’Saya enjoy saja,’’ ungkapnya.

Robot yang dilombakan kali ini adalah robot analog. Yaitu, robot yang tidak boleh diprogram. Semuanya harus dijalankan secara manual menggunakan perangkat.

Perangkat analog yang digunakan adalah stik playstation. ’’Itu stik yang paling bagus digunakan pada robot,’’ ungkap siswi kelas X itu.

Selain itu, ada juga robot yang telah diprogram. Hanya, robot itu masuk dalam kategori berbeda dalam perlombaannya. ’’Namun, yang berhasil menyabet juara adalah robot analog,’’ jelas siswi asli Kecamatan Baureno itu.

Lina memang menyukai robot. Namun, dia sama sekali tidak memiliki cita-cita menjadi ahli di bidang robot.

Lina malah bercita-cita menjadi TNI. Robotik baginya adalah hobi. ’’Dan saya ingin memperoleh prestasi dengan hobi yang saya sukai,’’ ungkapnya.

Kini, impian tersebut terealisasi. Bahkan, dia berharap bisa meraih prestasi internasional bersama timnya. 

Robotik memiliki tantangan tersendiri. Sehingga, tidak semuanya berjalan lancar. Tetap ada kesulitan yang harus dihadapi.

’’Kadang saat berlatih juga sering mengalami error. Dan itu harus diperbaiki dengan telaten,’’ ungkapnya.

Durasi berlatihnya juga tidak lama. Yaitu, setiap seminggu sekali. Namun, menjelang kompetisi, jadwal berlatihnya semakin intensif.

Bahkan, dia sampai pulang malam ketika harus berlatih di sekolah. 

Robot memang bukan hal baru di sekolahnya. Namun, dia dituntut untuk memperbaharui komponen robotnya.

Intinya, robot yang usianya sudah satu tahun harus dipensiunkan. Sebab, sudah kalah dengan robot generasi baru yang lebih cepat.

’’Dulu yang tercepat saat ini mungkin yang paling lambat. Karena selalu bermunculan robot baru,’’ ungkapnya.

Hal itu membuat guru dan siswa harus kreatif menciptakan robot baru. Selain bisa bergerak sendiri, juga bisa melakukan banyak hal.

Misalnya, mengangkut sampah dan lain sebagainya.

Menurut Lina, dia dan timnya seharusnya menang juara pertama. Namun, di tengah kompetisi final, robotnya mengalami kerusakan.

Akhirnya robotnya kalah dan harus menerima jadi dua dua. ’’Tapi, kami semua sudah bangga kok,’’ ungkapnya.

(bj/zim/nas/bet/JPR)

Source link